Sentra News Day - INFO TEMPO - Idul Fitri 1447 Hijriah akan hadir dua pekan lagi. Warga terdampak banjir Sumatra memendam harapan bisa menyambut hari raya bersama keluarga di hunian yang aman dan layak, bukan lagi di bawah tenda pengungsian.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terus mendorong akselerasi agar huntara siap huni. Ia menginginkan, ribuan keluarga yang sebelumnya mengalami kehilangan dan kerusakan tempat tinggal akibat terjangan banjir dapat menempati huntara sebelum Lebaran tiba.
"Kami harapkan secepat mungkin bisa menyelesaikan sebelum Idul Fitri," ujar Tito pada Ahad, 1 Maret 2026.
Selaku Kasatgas, Tito juga mendorong Kemensos untuk segera menyalurkan bantuan jaminan hidup untuk masyarakat terdampak, baik di huntara maupun di pengungsian. Tujuannya, agar masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan beban yang sedikit berkurang.
Di Aceh, geliat pembangunan hunian sementara (huntara) terus bergerak, mencapai 9.694 unit dari total target 17.642 per 3 Maret 2026. Dari jumlah tersebut, ada 6.311 unit yang sudah ditempati warga pengungsi di tenda.
Dari 12 kabupaten/kota di Aceh yang dibangun huntara, empat daerah yaitu Kabupaten Pidie, Kabupaten Nagan Raya, Kota Lhokseumawe, dan Aceh barat seluruh mencatat keterisian penuh 100 persen, menandakan warga di wilayah tersebut sudah beralih dari tenda pengungsian ke hunian yang lebih layak.
Sementara itu, pembangunan huntara terbanyak berada di Kabupaten Aceh Utara dengan total 3.105 unit. Meski jumlahnya paling besar, tingkat keterisiannya saat ini masih sekitar 570 unit, sehingga proses penempatan warga untuk 2.535 unit lainnya akan terus berlangsung.
Di Sumatera Utara, dari total 926 unit huntara yang telah selesai dibangun, sebanyak 485 unit sudah ditempati warga. Target provinsi ini untuk menyiapkan hunian yang aman bagi pengungsi sebanyak 1023 unit.
Tingkat hunian tertinggi tercatat di Kabupaten Tapanuli utara dengan 143 dari 155 unit atau sekitar 95 persen. Sebaliknya, persentase terendah berada di Kabupaten Tapanuli Selatan, di mana baru 304 dari 716 unit atau sekitar 41 persen yang terisi.
Capaian keterisian tertinggi berada di Sumatera Barat. Seluruh unit huntara yang berjumlah 732 telah ditempati pengungsi. Tersebar di enam kabupaten/kota, yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar, Pesisir Selatan dan Kota Padang. Dengan kondisi tersebut, tidak ada lagi pengungsi yang berada di tenda di Sumatera Barat menjelang Idul fitri.
Dengan demikian, terdapat 11.351 unit yang telah rampung dibangun di tiga provinsi terdampak per 3 Maret 2026. Dari angka tersebut, 7.528 unit telah terisi, sehingga masih terdapat 3.823 unit yang belum dihuni. Adapun berdasarkan pembaruan data per 5 Maret 2026, jumlah huntara yang telah rampung bertambah 12.563 unit.
Kepala Satuan Tugas Wilayah Aceh yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk mendorong pemindahan pengungsi ke huntara. Ia meminta para bupati segera menyiapkan masyarakat agar dapat menempati huntara sesuai dengan data yang telah diverifikasi dan disusun sebelumnya.
"Dalam 2 minggu ini kami mendorong agar diselesaikan," kata dia kepada Tempo pada Selasa, 4 Maret 2026.
Safrizal menjelaskan, belum terisinya sebagian huntara saat ini karena masih ada sejumlah lokasi yang secara fisik sudah rampung, tetapi instalasi air bersih dan fasilitas sanitasi masih dalam tahap penyelesaian. Kondisi ini menyebabkan pengisian hunian mengalami sedikit penundaan. "Kami berkoordinasi ketat dengan para PIC kabupaten/kota dan developer memonitor progres perkembangan pembangunan huntara," kata dia.
Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, proses pengisian huntara memerlukan waktu. Sebab, pemindahan mengharuskan mobilisasi masyarakat serta membawa barang dari tempat tinggal sebelumnya menuju huntara. Selain itu, masih ada sejumlah unit huntara yang menunggu pemasangan listrik dari PLN.
“Huntara yang sudah selesai sejauh ini langsung diisi masyarakat yang masih mengungsi,” kata dia.
Abdul Muhari mengatakan, tim BNPB di lapangan saat ini terus melakukan verifikasi data pengungsi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan usulan jumlah huntara dari pemerintah daerah benar-benar sesuai dengan jumlah pengungsi yang akan menempatinya.
“Data dari Pemda merupakan elemen krusial karena data kebutuhan huntara dan jumlah KK penerima itu dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Adapun percepatan pembangunan huntara di tiga provinsi tersebut berdampak signifikan terhadap penurunan jumlah pengungsi di tenda. Dari semula tercatat 2.178.269 jiwa, per 3 Maret 2026 jumlahnya menyusut drastis menjadi 6.873 orang. Kabupaten Aceh Utara saat ini mencatat jumlah pengungsi di tenda terbanyak untuk provinsi Aceh, yaitu 4.385 orang. Sementara di Sumatera Utara, angka tertinggi tercatat di Kabupaten Tapanuli Selatan sebanyak 472 orang.