Rock In Solo 2025: Musik Sebagai Suara Perlawanan Terhadap Ketidakadilan Sosial dan Lingkungan
Sosial

Rock In Solo 2025: Musik Sebagai Suara Perlawanan Terhadap Ketidakadilan Sosial dan Lingkungan

SOLO, 24 November 2025– Rock In Solo (RIS) Edisi 21, yang diselenggarakan di Benteng Vastenburg, Solo, pada 22-23 November 2025, hadir dengan fokus kuat pada aktivisme dan isu sosial. Festival musik metal terbesar di Jawa Tengah ini memposisikan dirinya sebagai platform bagi band-band untuk menyampaikan kritik dan protes terhadap bencana lingkungan dan kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat dan lingkungan.

Tiga band yang berkolaborasi dengan Trend Asia di RIS 2025 ini, SUKATANI, The Brandals dan Down For Life mengangkat isu ekstraktivisme di Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, penggundulan hutan untuk energi, dan KUHAP yang baru disahkan oleh DPR. Sementara itu di sesi talkshow Trend Asia bersama kolaborator mengangkat topik-topik seperti proyek energi kotor seperti Geothermal di Dieng, Proyek Strategis Nasional Merauke, racun berbahaya PLTU, pendanaan kotor bank-bank di industri batubara, penyelamatan hutan dari ekspansi industri energi (co-firing), Danantara, hingga isu pajak dan ketimpangan ekonomi.

Selama dua hari, festival ini menampilkan jajaran musisi internasional dan nasional papan atas.

RIS 2025 kembali menghadirkan headliner global, termasuk legenda Black Metal Mayhem (Norwegia), Blackened Death Metal dari Austria, Belphegor, dan Hardcore Punk energik Deez Nuts (Australia). Ada juga Stillbirth dari Jerman, Ugoslabier dari Thailand dan Tariot dari Singapura. Dari kancah domestik, penampilan diisi oleh nama-nama penting seperti Down For Life, Negatifa (Jakarta), the Brandals dan Sukatani. Kehadiran mereka membawa pesan-pesan yang relevan langsung ke hadapan ribuan penonton.

Band Sukatani menggunakan panggung RIS untuk menyuarakan protes terhadap Proyek Semen Pracimantoro. Mereka menyoroti ancaman serius proyek ini terhadap ekosistem gamping (karst), yang tidak hanya merusak bentang alam tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga lokal yang sangat bergantung pada sistem mata air.

Band veteran The Brandals menyampaikan kritik keras terhadap Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru. Mereka khawatir revisi ini mengandung pasal yang berpotensi membatasi kebebasan berekspresi dan menjadi alat kriminalisasi terhadap masyarakat yang kritis terhadap kekuasaan.

Sebagai tuan rumah dan salah satu kekuatan utama di balik festival, band Groove Metal Down For Life memberikan seruan penutup. Down For Life mengajak seluruh publik dan penggemar musik keras untuk terus menyuarakan aspirasi mereka. Terutama di tengah kebijakan pemerintah yang tidak memihak masyarakat, dan bencana iklim termasuk banjir rob yang mengancam Pulau Jawa.

Mengingat gelombang protes dan semangat demokrasi yang terus mendorong pemerintah untuk berpihak pada kepentingan rakyat sejak Agustus lalu, Down For Life menyerukan agar semangat perlawanan ini dijaga. RIS 2025 didedikasikan untuk memastikan bahwa suara protes melalui musik ini menjadi penanda bahwa perjuangan demi keadilan tidak akan berhenti.

Rangkaian diskusi yang diselenggarakan di Rock In Solo 2025 ini diinisiasi secara kolaboratif oleh berbagai masyarakat sipil, seperti CELIOS, Trend Asia, Yayasan Indonesia Cerah, Transparency International Indonesia, LBH Semarang, Yayasan Pusaka hingga masyarakat terdampak industri ekstraktif. Diskusi dilakukan secara interaktif bersama para musisi dan penggemar rock (*)

——-

KUTIPAN

Alectroguy, Sukatani

“Sebenarnya isu soal lingkungan ini kan isu yang kompleks, di dalamnya banyak sekali sumber permasalahannya, mulai dari kepentingan politik, ketamakan kapitalis sampai pengisapan di perburuhan, bahkan soal dogma yang dibangun penguasa yang menyebabkan konflik horizontal.”

“Jadi ketika kita semua sadar akan sumber-sumber permasalahan itu kita bisa saja melakukan perjuangan dari berbagai lini di manapun kita berada sesuai dengan kemampuan dan potensi yang kita miliki masing-masing, contoh misalnya musisi yang mampu dan berpotensi besar menggunakan medium musik untuk menyebarkan informasi dan juga dukungan.”

“Dengan saling mendukung setiap perjuangan masing-masing merupakan sebuah bentuk solidaritas yang paling mendasar dan bisa menjadi pondasi kuat kita untuk sama-sama menciptakan lingkungan yang lebih baik.”

Stephanus Adjie, Down For Life

“Kami mendedikasikan penampilan ini untuk para korban kekerasan dan pelanggaran HAM, mulai dari Tragedi 65, Kerusuhan 98, hingga kerusuhan dalam gelombang demonstrasi Agustus kemarin. Juga untuk semua rakyat dan masyarakat adat yang haknya dirampas atas negara dan oligarki. Kami juga menjadikan penampilan ini sebagai simbol perlawanan atas pengesahan RUU KUHAP, penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional, rencana penulisan ulang sejarah Indonesia dan pernyataan pemerintah melalui Menteri Kebudayaan bahwa tidak ada pemerkosaan massal saat Kerusuhan 98. Sebagai rakyat dan warga negara Republik Indonesia, kami menuntut keadilan dan pembangunan yang berkeadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.”

Eka Annash, The Brandals

“Musisi sebagai bagian komponen masyarakat punya privilege yang bisa digunakan dalam karya dan penampilannya. Kita ingin menggunakan kesempatan itu untuk menyuarakan dan mewakili kegelisahan, juga kekhawatiran kita sebagai anggota masyarakat.”

“Di rezim ini banyak lahir kebijakan dan peraturan pemerintah yang makin ugal-ugalan dan justru menekan hak dasar serta membungkam ruang gerak kita sebagai warga negara, seperti halnya KUHAP yang baru disahkan. Karena itu penting buat kita untuk memperjuangkan kebebasan kita serta menolak keras kebijakan dan peraturan ini di berbagai kesempatan supaya seluruh komponen masyarakat sadar dan bersatu untuk mengambil alih balik hak hidupnya,”

Novita Indri, juru kampanye energi Trend Asia.

“Lingkungan menjadi isu yang tidak dapat dipisahkan dengan musik, termasuk musik rock yang keras dan kerap menjadi medium untuk menyuarakan kritik-kritik terhadap ketidakadilan termasuk juga ketidakadilan bagi lingkungan. Kita harus berisik untuk bumi, karena berbagai kerusakan lingkungan atas kebijakan pemerintah yang semakin ngawur. Menyuarakan isu ketidakadilan bagi lingkungan sebagaimana seperti alunan musik yang kita nikmati setiap harinya,”

You can share this post!