Sentra News Day - Ketegangan global akibat perang Iran telah memasuki hari ke-77 dengan fokus perhatian tertuju pada Selat Hormuz, jalur energi paling strategis di dunia. Dalam pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, keduanya sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk menjaga kelancaran pasokan energi global.
Pembicaraan antara Trump dan Xi berlangsung di Beijing, di mana Gedung Putih mengungkapkan bahwa Xi mendukung pandangan bahwa stabilitas jalur Hormuz sangat penting di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh perang yang berdampak pada pasar minyak dunia. Kesepakatan ini diambil dalam konteks meningkatnya tekanan geopolitik di kawasan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengadakan pertemuan dengan negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India. Dalam pertemuan tersebut, Araghchi meminta dukungan untuk mengutuk perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menyebut Iran sebagai “korban ekspansionisme ilegal dan provokasi perang” serta menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan dari pihak manapun. Iran juga menuduh Uni Emirat Arab terlibat dalam konflik, dengan klaim keterlibatan langsung UEA dalam agresi terhadap Teheran.
Di tengah tekanan internasional, Iran mengisyaratkan pendekatan baru di Selat Hormuz. Media setempat melaporkan bahwa lebih dari 30 kapal, termasuk yang terkait dengan perusahaan Tiongkok, telah diizinkan melintas. Teheran menyatakan bahwa jalur tersebut tetap terbuka untuk kapal komersial yang bekerja sama dengan angkatan laut Iran. Sementara itu, Trump menyebut bahwa Xi menawarkan bantuan untuk menjaga stabilitas Selat Hormuz, meskipun menegaskan bahwa China tidak akan mengirim dukungan militer kepada Iran. Para analis mencatat bahwa meskipun pertemuan ini dikelola dengan hati-hati, hubungan antara Washington dan Beijing masih dipenuhi ketidakpercayaan.