Pemulihan Psikososial Anak Pengungsi Lubuk Buaya Melalui Aktivitas Bermain
Sumber Foto: InfoPublik
Internasional

Pemulihan Psikososial Anak Pengungsi Lubuk Buaya Melalui Aktivitas Bermain

Di Balik Tawa Anak Pengungsi Lubuk Buaya, Ada Upaya Memulihkan Luka

: Suara tawa anak-anak perlahan kembali mengisi Posko Pengungsian Hunian Sementara (Huntara) Rusunawa Lubuk Buaya, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar), pada Selasa (16/12/2025). (Foto: IGID/Triantoro)

Oleh Tri Antoro, Rabu, 17 Desember 2025 | 13:44 WIB - Redaktur: Kristantyo Wisnubroto - 221

Padang, InfoPublik — Suara tawa anak-anak perlahan kembali mengisi Posko Pengungsian Hunian Sementara (Huntara) Rusunawa Lubuk Buaya, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar), pada Selasa (16/12/2025).

Di tengah deretan bangunan sederhana dan rutinitas pengungsian yang serba terbatas, kehadiran Mobil Dukungan Psikososial Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama organisasi nirlaba Save the Children menghadirkan ruang aman bagi anak-anak untuk kembali merasa menjadi anak-anak.

Bagi mereka, bencana banjir dan longsor yang melanda Padang dua pekan lalu bukan sekadar peristiwa alam. Bencana itu meninggalkan jejak trauma, rasa takut, dan kehilangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan, karena belum sepenuhnya mampu memahami maupun mengelola emosi setelah mengalami peristiwa traumatis.

Di posko pengungsian, bantuan logistik seperti makanan dan kebutuhan dasar relatif tersedia. Namun, kebutuhan akan pemulihan psikologis kerap luput dari perhatian. Padahal, dukungan psikososial menjadi kunci agar anak-anak tidak terjebak dalam kesedihan berkepanjangan.

Muhammad Hafiz (7), adalah salah satunya. Rumah yang ia tinggali bersama keluarganya rusak parah akibat banjir dan longsor. Sejak itu, Hafiz tinggal di posko pengungsian. Hari-harinya dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman sebaya. “Di sini cuma main sama teman-teman. Makan tidak kekurangan,” ujar Hafiz dengan nada polos.

Meski tampak ceria, Hafiz menyimpan pengalaman pahit yang sulit ia ceritakan. Kehadiran kegiatan dukungan psikososial menjadi pelarian sekaligus penguat baginya. Berbagai aktivitas seperti mewarnai, menggambar, bermain bersama, hingga mendengarkan dongeng membuat Hafiz kembali menemukan semangat. “Senang bisa dapat banyak buku, crayon, sama bingkisan,” katanya sambil tersenyum lebar.

Kegiatan tersebut bukan hanya mengalihkan pikiran dari trauma, tetapi juga membuka ruang interaksi baru. Anak-anak dari berbagai wilayah terdampak bencana saling mengenal, berbagi cerita, dan bermain tanpa sekat. “Dapat teman baru. Tadi mewarnai bareng,” ujar Hafiz singkat.

Pengalaman serupa dirasakan Atifa Salma (11). Siswi kelas IV sekolah dasar ini kehilangan seluruh alat tulisnya akibat banjir. Sejak itu, ia tidak lagi bisa melakukan aktivitas yang ia sukai, yakni menggambar. “Semua alat tulis saya hanyut kena banjir. Jadi enggak bisa menggambar lagi,” katanya.

Melalui kegiatan dukungan psikososial, Atifa kembali mendapatkan peralatan menggambar. Bagi dirinya, bantuan tersebut bukan sekadar barang, melainkan sarana untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diucapkan. “Senang dapat peralatan gambar buat main di posko,” ujarnya.

Atifa mengaku kini bisa mengisi waktu luang dengan menggambar bersama teman-temannya. Aktivitas sederhana itu membantu mengalihkan pikiran dari rasa takut dan cemas yang sempat ia rasakan pascabencana.

Pengelola UPT Rusunawa dan Rumah Khusus Lubuk Buaya, Indra, mengatakan bahwa selama masa tanggap darurat, sebagian besar bantuan yang datang masih berfokus pada kebutuhan logistik. “Selama ini bantuan lebih banyak berupa makanan dan kebutuhan dasar. Padahal, secara kasat mata terlihat anak-anak juga butuh ruang untuk bermain dan pulih,” ujarnya.

Menurut Indra, kegiatan dukungan psikososial memberikan dampak yang nyata. Anak-anak terlihat lebih ceria, sementara para orang tua merasa lebih tenang melihat anak-anak mereka kembali tertawa. “Kalau anak-anak senang, orang tua juga ikut lega. Ini sangat membantu proses pemulihan, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk keluarga,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan, mengingat jumlah pengungsi yang masih cukup banyak dan proses pemulihan yang tidak bisa berlangsung dalam waktu singkat.

Di tengah keterbatasan pengungsian, crayon, buku cerita, dan permainan sederhana menjadi simbol harapan. Anak-anak di Rusunawa Lubuk Buaya perlahan belajar berdamai dengan kenyataan, sambil menata kembali keberanian untuk melangkah ke hari esok.

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber infopublik.id