DESKJABAR - Kota Bandung tidak masuk dalam delapan kawasan utama konsumen ikan nasional yang dipantau Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun, menjelang Bulan Suci Ramadhan 2026 hingga Hari Raya Idul Fitri 2026, masyarakat Bandung tetap dipastikan tidak akan kekurangan pasokan ikan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, pada Selasa, 3 Februari 2026, menegaskan, secara nasional, ketersediaan komoditas perikanan berada dalam kondisi aman dan melimpah. Hal ini berdasarkan hasil pemantauan neraca stok dan kebutuhan ikan yang dilakukan KKP untuk periode Januari–Maret 2026.
Secara nasional, produksi ikan diproyeksikan mencapai 3,57 juta ton, terdiri atas 2,05 juta ton ikan budidaya dan 1,52 juta ton ikan tangkap. Angka tersebut menjadi penyangga utama kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
“Distribusi antarwilayah tetap dioptimalkan untuk menjaga keseimbangan pasokan di tingkat konsumen,” ujar Trenggono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, dilansir Antaranews.
Konsumsi Ikan Bandung Masih Moderat
Berbeda dengan Jakarta yang menjadi barometer konsumsi nasional dengan kebutuhan lebih dari 80 ribu ton, pola konsumsi ikan masyarakat Bandung relatif lebih moderat. Faktor budaya konsumsi, jarak dari sumber laut, serta preferensi protein alternatif membuat Bandung tidak dikategorikan sebagai sentra utama konsumsi ikan nasional.
Namun demikian, tren peningkatan kesadaran gizi dan konsumsi ikan di wilayah perkotaan terus tumbuh, termasuk di Bandung. Karena itu, stabilitas pasokan dan harga tetap menjadi faktor penting.
Dengan seluruh kota sentra konsumsi nasional berstatus “Aman” dan ketersediaan ikan rata-rata di atas 100 persen. KKP juga menyiapkan stok dari gudang beku serta mengoptimalkan produksi perikanan budidaya sebagai langkah mitigasi. ***