Kode Identifikasi Elektronik Tingkatkan Transparansi Pasar Properti
Sumber Foto: Vietnam.vn
Lifestyle

Kode Identifikasi Elektronik Tingkatkan Transparansi Pasar Properti

Sentra News Day - Transparansi pasar melalui kode identifikasi.

"Pasar properti dikelola lebih ketat, sehingga meningkatkan keamanan," kata Bapak Le Hoang Chau, Ketua Asosiasi Properti Kota Ho Chi Minh (HoREA), pada seminar "Prospek Saluran Investasi di Tahun 2026" yang diselenggarakan oleh surat kabar Tuoi Tre.

Menurutnya, mulai 1 Maret 2026, pengelolaan properti akan secara resmi diimplementasikan menggunakan kode identifikasi elektronik sesuai dengan Keputusan Pemerintah Nomor 357/2025 tentang pembangunan dan pengelolaan sistem informasi dan basis data tentang perumahan dan pasar properti.

Banyak entitas akan diberi kode identifikasi, termasuk produk real estat perumahan (luas lantai bangunan), unit manajemen dan operasional gedung apartemen, lisensi pialang real estat, dan individu yang mendapat manfaat dari kebijakan dukungan perumahan.

Di Kota Ho Chi Minh saja, terdapat sekitar 2.000 proyek yang telah selesai dari tahun-tahun sebelumnya yang wajib diberi kode identifikasi, belum termasuk proyek-proyek lain di seluruh negeri. Menurut Bapak Chau, ini merupakan langkah penting menuju standardisasi data, peningkatan transparansi, dan membantu lembaga pengelola untuk memantau dan mengawasi pasar secara lebih efektif.

"Regulasi tidak hanya diperlukan selama krisis pasar, tetapi juga harus diterapkan secara teratur untuk memastikan keamanan dan pembangunan berkelanjutan," tegasnya.

Dari perspektif mobilisasi modal, Bapak Chau menyatakan bahwa meskipun saat ini terdapat lebih dari 44.000 bisnis properti di seluruh negeri, jumlah perusahaan yang terdaftar di bursa saham masih terbatas, sehingga gagal memanfaatkan pasar saham secara efektif untuk mobilisasi modal jangka menengah dan panjang. Saluran lain seperti obligasi atau dana investasi juga belum dimanfaatkan secara efektif.

Dalam konteks di mana kredit masih dikontrol ketat, obligasi tetap menjadi sumber modal jangka menengah dan panjang yang penting. Namun, untuk mengakses modal ini, bisnis harus meningkatkan transparansi, kapasitas keuangan, dan reputasi pasar mereka. "Banyak bisnis berupaya memenuhi kriteria agar dapat mengumpulkan modal di pasar obligasi," kata Bapak Chau.

Mengenai tren investasi, ia merekomendasikan agar investor memprioritaskan produk yang memenuhi kebutuhan nyata pasar, dan juga mempertimbangkan segmen resor dan pariwisata dalam jangka menengah dan panjang. Untuk saham properti, perlu untuk meneliti dengan cermat riwayat operasionalnya, memprioritaskan bisnis yang transparan dengan keuangan yang sehat yang selaras dengan strategi investasi jangka panjang daripada spekulasi jangka pendek.

Memulihkan kepercayaan di pasar obligasi.

Dari perspektif pasar modal, Bapak Trinh Thanh Can, Direktur Jenderal Kafi Securities Company, menyatakan bahwa hampir lima tahun setelah krisis obligasi properti, likuiditas di pasar obligasi korporasi masih rendah dan kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya.

Namun, sejak tahun 2025, tanda-tanda perubahan telah muncul karena suku bunga obligasi properti cenderung naik kembali. Beberapa penawaran mencatatkan imbal hasil tinggi, dengan jatuh tempo jangka pendek mencapai sekitar 9% per tahun. Menurut Bapak Can, ini mencerminkan kenyataan bahwa banyak bisnis menghadapi kesulitan dalam mengakses kredit bank, sehingga memaksa mereka untuk menerima biaya modal yang lebih tinggi.

Meskipun suku bunga deposito berfluktuasi sekitar 7-8% per tahun, imbal hasil obligasi sebesar 8-9% per tahun telah menjadi menarik bagi beberapa investor. Namun, ia mencatat bahwa suku bunga tinggi selalu disertai dengan risiko tinggi, terutama karena pertumbuhan kredit di sektor properti diproyeksikan akan tetap hati-hati pada tahun 2026.

Dalam peran mereka sebagai penasihat penerbitan, perusahaan sekuritas harus dengan cermat menyeleksi bisnis, menganalisis struktur keuangan, leverage, arus kas, dan kualitas aset jaminan. Menyusul pelanggaran sebelumnya, tanggung jawab hukum dan risiko reputasi bagi perusahaan penasihat menjadi jauh lebih tinggi.

Bapak Nguyen Viet Cuong, Wakil Ketua Dewan Direksi Kafi Securities Joint Stock Company, meyakini bahwa sifat bisnis properti sangat bergantung pada modal pinjaman. Mulai dari pengembangan proyek hingga operasional, semuanya membutuhkan modal yang diperoleh dari bank, obligasi, dan pra-penjualan produk. Oleh karena itu, kemampuan untuk memperoleh modal hampir menentukan kelangsungan hidup bisnis tersebut.

Menurut Bapak Cuong, penerbitan obligasi dapat menggantikan kredit sebagian pada tahun 2026, tetapi tidak dapat menggantikannya sepenuhnya. Dunia usaha masih akan sangat bergantung pada sistem perbankan.

Secara teknis, penempatan saham swasta dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua bulan, tetapi ini sangat bergantung pada investor profesional; sementara penawaran saham publik dapat memakan waktu lima hingga enam bulan karena perlu memenuhi berbagai persyaratan persetujuan peraturan.

Ia memperkirakan bahwa seiring dengan semakin lengkap dan transparannya kerangka hukum, pasar obligasi korporasi akan pulih secara bertahap. Namun, dalam jangka pendek, kredit bank akan tetap menjadi sumber pendanaan utama, sementara obligasi akan memainkan peran tambahan dan sangat bergantung pada tingkat pemulihan kepercayaan investor.

Secara keseluruhan, penguatan manajemen melalui kode identifikasi elektronik yang dikombinasikan dengan restrukturisasi saluran mobilisasi modal dianggap sebagai dua pilar penting untuk membantu pasar properti beroperasi lebih aman dan berkelanjutan di masa mendatang.