Batam Laksanakan Pendidikan untuk 67 Anak Pengungsi
Sumber Foto: InfoPublik
Internasional

Batam Laksanakan Pendidikan untuk 67 Anak Pengungsi

Batam, InfoPublik - Pemerintah Kota Batam memperkuat pemenuhan layanan dasar bagi pengungsi luar negeri, khususnya di sektor pendidikan anak. Hingga Januari 2026, sebanyak 67 anak pengungsi telah mengakses pendidikan formal di berbagai jenjang sekolah di Batam. Selain itu, 38 anak lainnya mengikuti program persiapan sekolah.

Data tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kota Batam, Firmansyah, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Pengungsian Luar Negeri di Daerah yang digelar di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (28/1/2026).

Rapat koordinasi ini diselenggarakan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri RI dan diikuti satuan tugas penanganan pengungsi luar negeri tingkat provinsi serta kabupaten/kota, bersama perwakilan lembaga internasional, baik secara luring maupun daring.

Firmansyah menjelaskan, Pemko Batam memastikan hak pendidikan anak pengungsi tetap terpenuhi. Selain pendidikan formal, terdapat anak pengungsi berkebutuhan khusus yang telah difasilitasi untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB).

Saat ini, Batam menangani 359 pengungsi yang berada di bawah pendampingan International Organization for Migration (IOM). Para pengungsi tersebut menempati dua lokasi penampungan sementara, yakni Hotel Kolekta Lubuk Baja dan Akomodasi Non-Detensi Sekupang.

Mayoritas pengungsi berasal dari Afghanistan sebanyak 227 orang, disusul Sudan 84 orang, Somalia 20 orang, dan sisanya dari sejumlah negara lain.

Sebagai wilayah perbatasan dan kawasan strategis nasional, Batam menghadapi tantangan dalam penanganan isu lintas negara. Pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi lintas sektor, meliputi pemantauan hunian, penanganan sosial kemasyarakatan, serta pemeliharaan ketertiban dan keamanan lingkungan.

Selain pendidikan, layanan kesehatan bagi pengungsi juga diperkuat melalui kolaborasi Dinas Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, dan mitra terkait. Layanan tersebut mencakup edukasi kesehatan, skrining dasar, layanan kesehatan mental dan psikososial, serta rujukan medis sesuai kebutuhan.

Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan guna memastikan pengungsi, khususnya anak-anak, tetap memperoleh perlindungan dan layanan dasar selama berada di Kota Batam.