Ancaman Penyakit Layu Akar Terhadap Perkebunan Lada Lampung
Sumber Foto: kirka.co
Sentra Utama

Ancaman Penyakit Layu Akar Terhadap Perkebunan Lada Lampung

Sentra News Day - Kirka – Posisi Provinsi Lampung sebagai sentra utama lada hitam nasional terancam runtuh.

Serangan penyakit mati layu dari akar atau Busuk Pangkal Batang (BPB) yang makin masif tidak sekadar menghancurkan produktivitas tanaman, melainkan langsung mencekik perekonomian para pekebun.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti fenomena tersebut sebagai krisis fatal yang berpotensi melumpuhkan sistem sosial ekonomi masyarakat pedesaan.

Dampak finansial yang mendera petani dinilai sudah menyentuh titik nadir.

Tanaman lada yang idealnya memiliki masa produktif hingga 15 bahkan 20 tahun terpaksa mati mendadak pada usia tiga hingga empat tahun.

“Baru sekali panen, seluruh investasi mulai dari pengadaan bibit, pupuk, hingga biaya tenaga kerja langsung lenyap. Kerugiannya total,” tegas Mahendra Utama, Rabu, 3 Juni 2026.

Fakta lapangan sejalan dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023.

Produktivitas lada menyusut drastis dari 0,8 ton menjadi 0,5 ton per hektare di berbagai sentra produksi.

Anjloknya hasil panen otomatis memangkas pendapatan, memaksa banyak pekebun terjerat pusaran utang tengkulak demi bertahan hidup.

Tanpa intervensi komprehensif, sumbangsih 35 persen Lampung terhadap produksi lada nasional dipastikan merosot tajam.

Skala makronya, Indonesia berisiko kehilangan pangsa pasar ekspor rempah global yang puluhan tahun dikuasai lada hitam asal Sai Bumi Ruwa Jurai.

Menurunnya gairah budidaya turut dibenarkan otoritas terkait.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung sempat menyatakan bahwa kerusakan masif akibat BPB sukses mengubah orientasi masyarakat.

Mayoritas pekebun akhirnya bersikap pragmatis, beralih menanam singkong atau kelapa sawit demi mendapat kepastian panen.

Membedah persoalan secara lebih mendalam, Mahendra mengkorelasikan pola tanam eksploitatif dengan teori Tragedy of the Commons dari Garrett Hardin (1968).

Lahan yang terus digarap tanpa langkah konservasi pasti memicu degradasi biologis.

“Lahan yang terus-menerus ditanam lada tanpa jeda rotasi atau perbaikan sistem drainase membuat patogen layu akar menumpuk pesat di dalam tanah,” paparnya.

Skenario terburuk dari pengabaian ekologis bermuara pada kolapsnya struktur sosial ekonomi pedesaan.

Lahan budidaya perlahan berubah marjinal, mata pencaharian utama lenyap, dan memicu ledakan angka kemiskinan.

Ironisnya, kearifan lokal merawat kebun warisan leluhur ikut terancam punah.

Rentetan krisis akhirnya menciptakan konsekuensi panjang.

Pemuda desa tak lagi memandang sektor pertanian lada sebagai ladang yang menjanjikan.

“Ketiadaan regenerasi petani muda menjadi pukulan telak.

“Jika tidak segera ada langkah penyelamatan tata niaga dan perbaikan ekosistem budidaya yang nyata, keberlanjutan komoditas strategis kita benar-benar tinggal sejarah,” tutup Mahendra.