Webinar Semesta 2021: Mendorong Inovasi dan Peluang Startup di Indonesia
Sumber Foto: Universitas Sebelas Maret
Ekonomi

Webinar Semesta 2021: Mendorong Inovasi dan Peluang Startup di Indonesia

UNS — Dalam rangka meresmikan Program Sebelas Maret Startup Academy (Semesta) 2021, UNS Innovation Hub (I-Hub) menggelar webinar yang bertajuk Startup Start Now! Building a Sustainable Startup pada Jumat (21/5/2021). Webinar tersebut dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dan disiarkan secara langsung di kanal youtube UNS.

Acara webinar dibuka oleh Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS, Prof. Kuncoro Diharjo yang mewakili Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho. Dalam pidato sambutannya, Prof. Kuncoro menuturkan bahwa sebagai perguruan tinggi, UNS memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan iklim inovasi dan mendekatkan hasil-hasil riset dari sivitas akademika sesuai dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Selain dihadiri oleh Prof. Kuncoro, Walikota Surakarta Gibran Rakabuming juga turut hadir di acara Webinar & Grand Launching Semesta 2021. Webinar tersebut diisi oleh enam pembicara, di antaranya; Ratih Rachmatika selaku Founder SIAB, Gatot Hendraputra selaku CEO of Imala Network, Anggoro Prasetiya Co-Founder of Kedata, Billy Jantriko selaku Business Lead Glints TalenHub Singapore, Hilda Rizky A CMO Partnership of Mertani dan Prof. Kuncoro selaku Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS.

Materi pertama diberikan oleh Ratih Rachmatika selaku Founder SIAB sekaligus alumnus Teknik Elektro UNS. Ratih membagikan pengalamannya ketika membangun bisnis startup di bangku kuliah. Menurutnya bisnis startup selalu berfokus kepada inovasi yang menjadi solusi bagi permasalahan di masyarakat. Inovasi tersebut yang membuat bisnis startup berbeda dengan small business yang hanya melakukan diferensiasi terhadap produk yang sudah ada di pasar.

Sebagai founder Ratih juga mengatakan bahwa founder bisnis startup harus memiliki karakter yang siap kehilangan saham untuk memperbesar perusahaannya. Berbeda dengan small business yang berfokus terhadap keuntungan.

Materi kedua disampaikan oleh Gatot Hendraputra selaku CEO of Impala Network. Gatot menyampaikan tentang peluang besar yang dimiliki oleh Inkubator Bisnis terkait dengan kontribusinya dalam menciptakan startup-startup yang sustainable.

“Inkubator Startup berkontribusi dalam pemahaman bahasa yang digunakan oleh masing-masing stakeholders dan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami,” jelas Gatot.

Selain itu, Gatot juga menegaskan bahwa sebuah I-Hub harus memiliki kemampuan untuk bisa memahami dan menciptakan sebuah model yang dapat mendukung perjalanan para pengusaha serta sebagai invest people, yakni dengan mencipkatan orang-orang yang memiliki sotfskill yang baik sehingga dapat memperkuat bisnis startup.

“Bukan masalah produknya, tapi siapa yang menjalankan ini,” imbuh Gatot.

Sementara Anggoro Prasetiya selaku Co-Founder of Kedata menyampaikan peluang pengolahan data dalam bisnis startup. Menurutnya, bisnis pengolahan data sangat diperlukan untuk membersihkan data yang tidak bisa diintegrasi atau sering disebut dengan data kotor. Kedepannya, data kotor tersebut berdampak terhadap pengambilan keputusan baik oleh perusahaan swasta maupun kebijakan yang dikeluarkan oleh organisasi pemerintah.

“Terkait dengan industri data, sumber daya manusianya masih sulit untuk ditemukan. Artinya pertumbuhan data yang pesat tidak didukung oleh data-data yang bersih dan berkualitas bagus,” ungkap Anggoro.

Potensi lain yang dimiliki oleh Indonesia untuk membangun bisnis startup juga dapat dilihat dari tingginya angka pertumbuhan startup di Indonesia. Bahkan meskipun di situasi pandemi, banyak startup yang masih dapat berkembang hingga angka 6,6 – 7,1%. Potensi selanjutnya dapat dilihat dari tingginya angka pengguna internet di tahun 2020 yang mencapai 175,4 juta jiwa.

“That’s why we see Indonesia potentials not only how we adopt the digital platform but at the same time is how big is our market share, (itu sebabnya, kami melihat potensi Indonesia tidak hanya pada bagaimana kita mengadopsi platform digital tetapi juga terhadap pasarnya yang besar),” ujar Billy selaku Business Lead Glints TalenHub Singapore.

Selain itu, presentasi bisnis startup di Indonesia masih di angka 1,6%. Angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan populasi penduduk di Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa. Bahkan penduduk Indonesia yang berada di usia produktif juga tinggi, yakni mencapai 67% atau 183,36 juta jiwa.

“So, if you guys are going to start into that digital startup, please go ahead! Don’t think twice because this is the right platform, this is the right place for you guys to grow and especially to put yourself in this digital platform. (jadi, jika kamu ingin memulai digital startup, jangan berpikir dua kali karena ini adalah platform dan tempat yang tepat bagi kamu untuk berkembang terutama untuk menempatkanmu di platform digital ini),” pungkas Billy. Humas UNS

Reporter: Alinda Hardiantoro

Editor: Dwi Hastuti