Tips Bertahan untuk Startup Digital di Tengah Tantangan Ekonomi
Sumber Foto: Jawa Pos
Teknologi

Tips Bertahan untuk Startup Digital di Tengah Tantangan Ekonomi

Sentra News Day - JawaPos.com - Lanskap startup digital di Indonesia sedang mengalami perubahan, terutama dikarenakan iklim ekonomi global yang kurang kondusif. Sebagai upaya untuk membantu startup founders agar bisa mempertahankan momentum usaha dan mencapai Product-Market Fit (PMF) dengan tepat, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pun menyelenggarakan program inkubasi Startup Studio Indonesia (SSI).

Dalam program yang telah memasuki batch kelima ini, para startup terpilih berkesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan pelaku startup veteran di Indonesia, dalam sesi 1-on-1 Coaching. Supaya bisa bertahan ditengah gempuran situasi ekonomi yang masih belum menentu, para pakar yang juga merupakan mentor di SSI memberikan beberapa tips buat startup digital.

Disrupsi dan tren jangan selalu diikuti

Selama ini, startup selalu diidentikkan dengan usaha yang mendisrupsi bisnis konvensional. Namun, pada kenyataannya, disrupsi dan tren tidak selalu berjalan di jangka panjang. Hal ini diungkapkan oleh Christopher Madiam, Founder dan CEO Sociolla.

Menurutnya, tidak semua hal bisa di-disrupsi. Sebagai founders harus bisa menganalisa mana kebiasaan konsumen yang bisa diubah, dan mana yang tidak.

Bagaimanapun berkembangnya sistem e-commerce, toko offline pasti akan tetap eksis, itulah mengapa startup digital tidak perlu terpaku pada disrupsi dan tren.

"Jadi perlu diingat bahwa tidak semua disrupsi dan tren-tren digitalisasi baru perlu untuk kita ikuti,” ungkapnya.

Gabungkan hasil benchmarking dengan data dan analisa mandiri

Salah satu cara startup untuk bisa memahami pasar yang dituju adalah dengan melakukan benchmarking, yaitu menganalisa apa yang telah dilakukan startup serupa atau bahkan kompetitor.

Menurut Alfatih Timur, Co-Founder & CEO Kitabisa, di tahap awal, founder pun bisa menjajal langsung dengan menjadi user di bisnis serupa, agar bisa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari startup lain dan menghadirkan solusi yang lebih baik.

Jangan takut bereksperimen

Selanjutnya untuk bisa bertahan dan update mengenai perkembangan terkini adalah dengan jeli melihat peluang. Jangan takut mencoba hal baru atau bereksperimen.

Rama Notowidigo, Co-Founder AwanTunai dan Sayurbox, sekaligus mantan Chief Product Officer GO-Jek mengatakan, penting bagi founder startup untuk berani mencoba segala sesuatu, dan melihat mana cara yang berhasil dan gagal.

"Kesuksesan itu sendiri bisa dilihat jika eksperimen tersebut bisa menghasilkan pendapatan organik dan ada level retensi (loyalitas pengguna) yang cukup sehat," ungkapnya.

Christopher Madiam pun ikut menyuarakan hal yang sama. Ia menyarankan para founders untuk mencoba segala sesuatu di skala kecil-kecilan. Jika mendapatkan respon positif dari pengguna/klien, barulah startup bisa menyempurnakan kembali produk tersebut.

Seringkali eksperimen kecil-kecilan menjadi faktor yang lebih efektif daripada terlalu banyak menerima teori saja tanpa dipraktikkan.

Human touch tetap harus jadi prioritas

Bagi startup yang bergerak di bidang Business to Business (B2B), layanan pelanggan tetap menjadi aspek utama yang perlu dijaga. Brian Marshal, Founder dan CEO dari omnichannel commerce enabler, SIRCLO Group, menyampaikan, seiring dengan berkembangnya skala bisnis, tentu kita membutuhkan intelegensi dan analisa data yang kuat untuk bisa memberikan servis terbaik bagi klien.

Disampaikannya, data ini membantu pengambilan keputusan, misalnya berapa harga yang terbaik? Berapa margin diskon yang paling bagus? Tapi jangan lupa, bahwa analisa data ini tidak bisa menggantikan layanan manusia atau human touch.

"Kita perlu memberikan layanan terbaik selalu bagi klien, betul-betul memahami apa pain points dan membantu mereka ketika menemukan hambatan. Di sinilah peran penting dari divisi layanan pelanggan atau Account/Relationship Manager,” ujarnya.

Bangun fitur yang melengkapi produk utama

Dalam proses membesarkan startup, terkadang founders terlalu berfokus dalam menciptakan fitur dan produk baru, sehingga mengorbankan produk utama yang telah memiliki model bisnis yang jelas.

Untuk itu, ketika startup sudah menemukan PMF dan mempunyai jasa/produk digital yang menghasilkan pendapatan, maka bangunlah fitur dan produk-produk baru yang bisa melengkapi hal tersebut.

Mengingat pentingnya tahap PMF untuk startup, SSI berharap pelatihan tahun ini bisa berkontribusi dalam mencetak 150 startup digital yang mampu mengembangkan skala bisnisnya, dari segi jumlah pengguna, jumlah pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan pendanaan dari Venture Capital pada tahun 2024 mendatang.