Sentra News Day - Startup teknologi Indonesia menghadapi tantangan skalabilitas produk digital yang dapat menghambat pertumbuhan mereka. Meskipun beberapa berhasil mencapai status unicorn, banyak yang gagal bertahan karena produk yang tidak siap menghadapi lonjakan pengguna.
Banyak pendiri startup, khususnya yang memiliki latar belakang non-teknis, memahami skalabilitas sebagai sekadar menambah kapasitas server saat trafik meningkat. Namun, skalabilitas seharusnya dipikirkan sejak awal pengembangan produk, dengan mempertimbangkan arsitektur sistem yang mampu mendukung pertumbuhan pengguna.
Tekanan dari investor dan persaingan di pasar seringkali mendorong tim engineering untuk lebih fokus pada kecepatan peluncuran fitur baru daripada kualitas arsitektur jangka panjang. Keputusan ini dapat berakibat buruk, karena utang teknis yang menumpuk membuat perbaikan arsitektur menjadi semakin sulit dan mahal ketika perusahaan membutuhkan sistem yang stabil.
Selain itu, terbatasnya jumlah insinyur perangkat lunak yang berpengalaman merancang sistem berskala besar menjadi tantangan struktural. Banyak startup harus membangun tim engineering dari talenta yang belum memiliki pengalaman menghadapi tantangan skala yang besar, sehingga keputusan arsitektur sering kali diambil tanpa pertimbangan yang matang.
Startup yang berhasil melewati fase pertumbuhan pesat biasanya melakukan evaluasi arsitektur secara berkala. Investasi dalam code review, pengujian beban sistem, dan kesediaan untuk melakukan refactoring menjadi kebiasaan penting yang sering diabaikan oleh startup tahap awal.
Skalabilitas produk digital bukan hanya masalah anggaran infrastruktur. Agar dapat bertahan, startup Indonesia perlu membangun kesadaran arsitektur skala besar sejak tahap perancangan produk dan memberikan ruang bagi tim engineering untuk memperbaiki fondasi teknis secara berkelanjutan.