Sanitasi Buruk Picu Penyakit di Pengungsian Banjir Mulyorejo Pekalongan
PEKALONGAN, LINGKAR TV – Cuaca ekstrem dan bencana banjir yang berkepanjangan di Kabupaten Pekalongan kini mulai berdampak serius pada kesehatan warga.
Ribuan jiwa terdampak, dan puluhan di antaranya yang bertahan di posko pengungsian mulai mengeluhkan berbagai penyakit akibat sanitasi yang buruk.
Tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Tirto 2 menemukan sejumlah pengungsi di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, mulai mengalami gangguan kesehatan saat melakukan pemeriksaan di posko TPQ Nurul Iman, Rabu (4/2/2026).
“Seperti biasa pada kondisi banjir yang berkepanjangan, masalah sanitasi menjadi penyebab utama penyakit, mulai dari gatal-gatal, diare, batuk pilek, dan juga pegal-pegal akibat kurangnya ruang untuk beraktivitas,” ujar salah seorang nakes saat memberikan pelayanan kesehatan.
Perhatian Khusus Penyakit Kronis Pengungsi Banjir
Selain menangani keluhan penyakit ringan, tim medis juga memberikan perhatian khusus bagi para pengungsi yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus. Petugas memastikan ketersediaan obat rutin untuk kebutuhan para pasien selama 10 hari ke depan.
Namun, untuk pengungsi dengan gangguan jiwa yang biasanya rutin kontrol di RSU Djunaid Pekalongan, petugas hanya bisa memberikan penanganan terbatas.
“Kita tidak bisa memberikan obat pengganti untuk penyakit jiwa, hanya bisa menangani keluhan fisik seperti tidak enak badan yang dirasakan pasien,” kata nakes lainnya, Madu.
Bertahan dengan Iuran Mandiri
Salah satu pengungsi di TPQ Nurul Iman, Taufik, menuturkan bahwa warga berupaya bertahan dengan fasilitas seadanya. Meskipun banjir mengepung, mereka beruntung masih ada area yang cukup tinggi untuk keperluan sanitasi.
“Alhamdulillah-nya ada tempat yang agak tinggi, jadi untuk MCK masih bisa digunakan, mandi dan cuci pakaian juga tetap bisa dilakukan,” kata Taufik.
Untuk kebutuhan logistik harian, warga masih mengandalkan bantuan dari BPBD Kabupaten Pekalongan dan para donatur. Namun, untuk menjaga dapur umum tetap mengepul, para pengungsi terpaksa melakukan iuran mandiri guna membeli kebutuhan mendesak yang mulai menipis.
“Warga terpaksa iuran mandiri guna membeli bumbu dapur dan gas yang kian menipis,” imbuhnya.
Hingga saat ini, sebanyak 50 pengungsi yang terdiri dari balita hingga lansia telah bertahan selama 19 hari di TPQ Nurul Iman. Banjir yang melanda wilayah Pekalongan sejak 17 Januari 2026 tersebut hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. (Red – Lingkartv.com)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari lingkartv.com
Banjir Pekalongan berita pekalongan BPBD Kabupaten Pekalongan Kecamatan Tirto Masalah Sanitasi Pengungsi Banjir Puskesmas Tirto 2
Bagikan
Facebook X Pinterest




