Proses Pemulihan Pascabencana Sumatra: Pengungsi Menurun 99 Persen
tirto.id - Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara menunjukkan kemajuan signifikan. Dalam kurun hampir tiga bulan, jumlah pengungsi sudah berkurang lebih dari 2,16 juta orang atau menyusut sekitar 99 persen lebih.
Data terbaru menunjukkan jumlah pengungsi berkurang cepat dalam sehari terakhir, yakni dari 12.402 orang pada 23 Februari kemarin menjadi 11.879 jiwa pada 24 Februari 2026. Pengurangan 523 pengungsi hanya dalam waktu sehari mengindikasikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berada di jalur yang tepat.
Berdasarkan laporan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, masih ada 11.029 pengungsi di Aceh dan 850 lainnya di Sumatera Utara. Angka tersebut jauh menurun dibandingkan pada awal masa darurat 2 Desember 2025 lalu, ketika jumlah pengungsi di tiga provinsi mencapai 2.178.269 orang.
Menurut Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, penurunan drastis jumlah pengungsi di tiga provinsi itu tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang menjadi kunci pemulihan cepat pascabencana.
"Ada yang sudah pulang kembali, mendapatkan bantuan stimulan untuk rumah rusak ringan maupun sedang, sedangkan yang berat atau hilang tinggal di huntara maupun mendapatkan Dana Tunggu Hunian," kata Tito pada Rabu (18/2/2026), seperti dilansir Antara.
Pengurangan jumlah pengungsi berjalan seiring dengan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara). Dari target 18.302 unit, sebanyak 10.125 unit atau sekitar 55 persen telah rampung dibangun.
Pembangunan huntara menjadi tahap transisi penting. Huntara memungkinkan warga meninggalkan tenda darurat dan menempati hunian yang lebih aman dan layak sambil menunggu pembangunan rumah permanen.
Sementara itu, penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) telah terealisasi sepenuhnya. Sebanyak 10.748 penerima di tiga provinsi telah menerima distribusi bantuan melalui rekening masing-masing warga. Dana tersebut menjadi penopang utama kehidupan masyarakat terdampak selama masa transisi pemulihan pascabencana.
Pemulihan infrastruktur dasar di tiga provinsi juga menunjukkan progres menggembirakan. Pasokan listrik di Sumatera Barat telah pulih sepenuhnya, sementara di Aceh dan Sumatera Utara masih tersisa sebagian kecil pelanggan yang masih dalam proses penanganan.
Saluran komunikasi pun telah pulih seiring dengan selesainya normalisasi seluruh menara BTS di tiga provinsi yang sempat terdampat bencana. Demikian pula akses jalan nasional yang sudah normal kembali dan bisa mendukung distribusi logistik maupun mobilitas masyarakat.
Pemerintah berkomitmen mendorong pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara aman, stabil, dan bermartabat.




