Pohon Waru: Simbol Kekuatan Emosi dalam Film Horor Waru
Sumber Foto: Sinar Pagi News -
Lifestyle

Pohon Waru: Simbol Kekuatan Emosi dalam Film Horor Waru

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Sutradara Chiska Doppert menegaskan bahwa sosok pohon waru dalam film horor psikologis Waru tidak hanya berfungsi sebagai properti visual, melainkan menjadi elemen utama yang menggerakkan konflik cerita sekaligus emosi para karakter. Karena itu, melalui pendekatan simbolik dan dramatik, ia berupaya menghadirkan teror yang terasa hidup serta relevan dengan perjalanan psikologis tokoh, sehingga film ini menawarkan horor yang lebih emosional dan berlapis.

Selain mengandalkan atmosfer mencekam, Chiska juga menekankan pentingnya konflik karakter sebagai fondasi cerita. Dengan demikian, setiap kejadian dalam film dibangun melalui sebab-akibat yang jelas, sehingga ketegangan tidak sekadar muncul dari kemunculan makhluk gaib, tetapi juga dari trauma masa lalu serta pilihan moral para tokoh.

Diproduksi Adglow Pictures bersama Suraya Filem dan Film Q Indonesia, Waru diadaptasi dari novel karya produser Aji Fauzi yang kemudian dikembangkan ulang agar memiliki kekuatan dramatik di layar lebar. Namun demikian, Chiska mengaku proses adaptasi tidak dilakukan secara mentah, karena ia ingin memastikan cerita memiliki kedalaman emosi yang kuat sekaligus alur yang logis.

Dalam acara press screening di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/2), Chiska mengatakan bahwa pohon waru diperlakukan seperti entitas hidup yang memengaruhi perjalanan karakter. Oleh sebab itu, simbol pohon tidak hanya menjadi latar visual, melainkan bagian penting dari konflik batin yang terus berkembang sepanjang cerita.

“Pohon waru bukan sekadar properti visual. Ia menjadi bagian dari perjalanan psikologis karakter. Jadi terornya lahir dari rasa bersalah dan keputusan yang mereka ambil sendiri,” ujar Chiska.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendekatan horor psikologis dipilih agar penonton tidak hanya merasakan ketakutan sesaat, tetapi juga memahami lapisan emosi di balik setiap peristiwa. Karena itu, drama keluarga, relasi yang rapuh, serta misteri yang terungkap perlahan menjadi elemen penting dalam membangun suasana film.

Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi, mulai dari Bogor, Sukabumi, Solo, hingga kawasan Tawangmangu dan Boyolali. Selain memperkuat nuansa sunyi dan mencekam, pemilihan lokasi tersebut juga dinilai mampu menghadirkan tekanan psikologis yang sesuai dengan perjalanan karakter dalam cerita.

Di sisi lain, Waru menghadirkan banyak wajah baru yang sebelumnya dikenal melalui sinetron dan FTV. Meski demikian, seluruh pemain menjalani workshop akting sebelum syuting dimulai agar gaya bermain mereka lebih sinematik serta mampu menampilkan emosi secara jujur.

“Mereka sudah punya pengalaman akting, tetapi pendekatan film berbeda dengan televisi. Karena itu workshop penting supaya emosi yang dibangun terasa alami dan menyatu dengan ritme cerita,” katanya.

Film ini dibintangi Bella Graceria, Zikri Daulay, Jinan Safa, Dewi Amanda, Yatti Surachman, Josiah Hogan, Sharifah Husna, dan Sean Mikail. Cerita berpusat pada Lydia (Dewi Amanda), perempuan yang dipasung karena sering kerasukan dan dianggap membahayakan orang di sekitarnya. Sebelum meninggal, Lydia berpesan kepada Nadine (Bella Graceria) untuk memusnahkan pohon waru terkutuk di kampung halamannya. Namun pesan tersebut diabaikan, sehingga teror mulai menghantui Nadine dan orang-orang terdekatnya hingga mereka kembali ke rumah tua keluarga di tengah hutan, tempat rahasia kelam masa lalu perlahan terkuak.

Meski proses syuting berlangsung sekitar 16 hari pada 2023, film ini baru rampung pada 2025 setelah melalui pascaproduksi panjang, termasuk pengulangan penyuntingan untuk menemukan nuansa emosional yang tepat. Oleh karena itu, Chiska berharap Waru dapat menghadirkan warna baru dalam perfilman horor Indonesia sekaligus memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga menyentuh sisi emosional penonton.

“Pada akhirnya, saya ingin penonton merasakan bahwa horor bukan hanya soal menakut-nakuti. Namun lebih dari itu, ada cerita tentang manusia, rasa bersalah, dan pilihan hidup yang harus dipertanggungjawabkan,” pungkas Chiska.