Pengungsi Tanah Gerak Jangli Semarang Alami Masalah Kesehatan Setelah Sebulan Tinggal di Tenda
Sentra News Day - SEMARANG, KOMPAS.com - Sebanyak 65 warga Jangli, Kota Semarang sudah tinggal di tenda pengungsian sekitar sebulan akibat terdampak tanah gerak.
Kini, mereka sudah merasakan keluhan sakit.
Warga Jangli mulai mengungsi di tenda darurat akibat bencana tanah gerak sejak Kamis, 5 Februari 2026.
Ketua RT 07 RW 01, Joko Sukaryono (50) mengatakan, saat ini aktivitas masyarakat seperti bekerja dan sekolah masih berjalan normal.
Namun, kondisi kesehatan mulai menjadi perhatian.
Sekitar 10 warga, termasuk tiga anak-anak, dilaporkan mengalami keluhan batuk dan demam.
Ia mengatakan, di tenda pengungsian warga tidur di lantai dengan alas seadanya.
“Mungkin karena tidak biasa tidur di lantai dengan alas seadanya, ditambah cuaca hujan dan kelembapan tinggi, daya tahan tubuh menurun,” kata Joko kepada Kompas.com, Rabu (4/3/2026).
Dinkes Bakal Lakukan Kontrol Rutin
Dinas Kesehatan Kota Semarang disebut telah melakukan pemeriksaan dan akan melakukan kontrol rutin setiap pekan untuk memantau kondisi para pengungsi.
Joko juga terus mengingatkan warga agar tidak kembali ke lokasi terdampak, terutama saat hujan turun, karena pergerakan tanah masih berpotensi terjadi.
“Kalau hujan, kami imbau warga tidak mondar-mandir ke lokasi karena kita tidak tahu hal yang tidak diinginkan bisa terjadi,” ujarnya.
Sebelumnya, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mewacanakan relokasi warga Jangli yang terdampak tanah bergerak.
"Perencanaan (relokasi)," kata Agustina.
Namun, dia menyadari bahwa relokasi tak semudah membalikkan telapak tangan, karena ada warga yang pro dan kontra.
Menurutnya, relokasi merupakan faktor penting agar warga yang terdampak bisa hidup tenang dan terbebas dari ancaman tanah bergerak.
"Ya, harus diungsikan. Harus diungsikan. Itu penting banget ya," ucap Agustina saat ditanya soal rencana darurat.




