Pengungsi Banjir Aceh Timur Masih Tinggal di Tenda Darurat Setelah Empat Bulan
Sumber Foto: Serambinews.com
Internasional

Pengungsi Banjir Aceh Timur Masih Tinggal di Tenda Darurat Setelah Empat Bulan

Ringkasan Berita:

Lambatnya pembangunan hunian sementara (Huntara) yang ditangani Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi penyebab utama warga belum bisa kembali ke kehidupan normal.

Kondisi di lapangan menunjukkan pemandangan memprihatinkan. Karena Huntara yang dijanjikan tak kunjung berdiri, sejumlah warga berinisiatif membangun gubuk darurat secara mandiri. Ironisnya, bahan bangunan yang digunakan berasal dari kayu-kayu sisa hanyutan banjir yang mereka kumpulkan sendiri.

Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI – Derita warga pedalaman Desa Sahraja dan Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, seolah tak berujung. Meski banjir bandang telah berlalu empat bulan, puluhan warga hingga kini masih bertahan di bawah tenda pengungsian yang pengap, Rabu (25/2/2026).

Lambatnya pembangunan hunian sementara (Huntara) yang ditangani Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi penyebab utama warga belum bisa kembali ke kehidupan normal.

Kondisi di lapangan menunjukkan pemandangan memprihatinkan. Karena Huntara yang dijanjikan tak kunjung berdiri, sejumlah warga berinisiatif membangun gubuk darurat secara mandiri. Ironisnya, bahan bangunan yang digunakan berasal dari kayu-kayu sisa hanyutan banjir yang mereka kumpulkan sendiri.

Kepala Dusun Rantau Panjang, Mujahidin, mengungkapkan adanya kebuntuan antara warga dan vendor terkait konsep pembangunan yang menjadi salah satu penghambat.

“Pihak vendor beralasan ingin membangun Huntara dengan sistem komunal agar pengerjaannya cepat selesai. Namun masyarakat menolak. Kami punya tanah sendiri dan meminta pembangunan dilakukan secara insitu (di lokasi tanah masing-masing),” ujar Mujahidin.

Saat dikonfirmasi mengenai minimnya progres pembangunan, pihak pelaksana proyek berdalih faktor geografis menjadi tantangan utama. Kondisi alam di Sijudo yang ekstrem disebut menyulitkan mobilisasi alat berat dan material bangunan ke lokasi terdampak.

Hingga kini, satu-satunya bangunan yang rampung di Dusun Rantau Panjang hanyalah sebuah meunasah yang digunakan warga untuk beribadah. Namun nasib serupa belum dialami warga di dua dusun lainnya, yakni Bedari dan Sijudo.

Keterlambatan ini terasa semakin menyesakkan menjelang bulan suci Ramadhan. Saat warga Dusun Rantau Panjang sudah bisa melaksanakan salat Tarawih di meunasah baru, warga di dusun tetangga masih harus bersujud di bawah tenda darurat dengan fasilitas seadanya.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan menekan pihak vendor agar mempercepat pengerjaan sebelum kondisi fisik dan psikis para pengungsi semakin menurun.

Tak hanya di Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, keterlambatan pembangunan Huntara juga terjadi di Kecamatan Serbajadi, tepatnya di Desa Ujung Karang. Masyarakat di sana masih tidur di bawah tenda karena pembangunan Huntara baru mencapai sekitar 60 persen. Sebagian warga bahkan mulai membelah kayu sisa banjir untuk membangun rumah sendiri.

Kahirul Amri, warga Dusun Tembolon, Desa Ujung Karang, yang kini mengungsi di lokasi dekat area Huntara, mengaku memilih bertahan di sana karena tanah miliknya telah lenyap dan akses ke Huntara lebih dekat.

“Sudah lama kami di sini, bang. Sejak seminggu setelah air surut kami sudah pindah ke lokasi ini. Kalau dihitung sudah empat bulan. Saya memilih mendirikan tenda dekat Huntara agar bisa bekerja di sini,” paparnya.

Ia terpaksa bekerja di lokasi pembangunan Huntara karena tidak lagi memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pascabanjir. Ayah dua anak itu berharap Huntara segera rampung dan pemerintah memberi perhatian khusus kepada warga yang kehilangan mata pencaharian.(*)