Pemerintah Ambil Alih Tanah Telantar Sesuai PP 48 Tahun 2025
detikProperti Berita
Penjelasan Tanah Telantar yang Kini Bisa Diambil Negara Kapan Saja
Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Sabtu, 07 Feb 2026 18:42 WIB
Jakarta -
Lewat penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan dan Tanah Telantar, pemerintah kini bisa mengambil tanah-tanah nganggur yang dibiarkan dan tidak dimanfaatkan oleh rakyat.
Tenang, kebijakan ini tidak dilaksanakan sembarangan, ada kriteria dan evaluasi yang panjang, sampai akhirnya tanah tersebut bisa ditetapkan sebagai objek penertiban tanah telantar.
Menurut pasal 1, tanah telantar adalah tanah hak, tanah Hak Pengelolaan, dan tanah yang diperoleh berdasarkan Dasar Penguasaan Atas Tanah yang sengaja tidak diusahakan, tidak dipergunakan, tidak dimanfaatkan, dan/atau tidak dipelihara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kasubdit Penertiban Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (Ditjen PPTR) Kementerian ATR/BPN Pramusinto perbuatan yang dikatakan 'sengaja' adalah jika pemegang hak, pemegang Hak Pengelolaan, atau Pemegang Dasar Penguasaan Atas Tanah secara de facto tidak mempergunakan, tidak memanfaatkan, dan/atau tidak memelihara tanah yang dimiliki atau dikuasai, sesuai dengan keputusan pemberian haknya dan/atau rencana pengusahaan, penggunaan, atau pemanfaatan tanahnya.
Baca juga: PP 48 Terbit, Siap-siap Tanah Telantar Bakal Diambil Negara!
ADVERTISEMENT
Tanah tidak akan dicap sebagai tanah telantar apabila pemilik tanah bersertifikat telah melakukan Hak Atas Tanah. Apa itu?
Hak Atas Tanah adalah hak yang diperoleh dari hubungan hukum antara Pemegang Hak dengan tanah termasuk ruang di atas tanah dan/atau ruang di bawah tanah untuk menguasai, memiliki, menggunakan, dan memanfaatkan, serta memelihara tanah, ruang di atas tanah, dan/atau ruang di bawah tanah.
Dalam pasal 2, disebutkan pula bahwa setiap pemegang lzin/Konsesi/Perizinan Berusaha wajib mengusahakan, mempergunakan, dan/atau memanfaatkan lzin/Konsesi/Perizinan Berusaha dan/atau kawasan yang dikuasai.
Selain itu, setiap Pemegang Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha wajib melaporkan pengusahaan, penggunaan, dan/atau pemanfaatan Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha dan/atau kawasan yang dikuasai secara berkala.
Selain itu, dalam Pasal 6 dijelaskan secara rinci, objek tanah telantar yang bisa kena penertiban itu kriterianya sebagai berikut:
1. Objek penertiban tanah telantar meliputi tanah hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai, Hak Pengelolaan, dan tanah yang diperoleh berdasarkan Dasar Penguasaan Atas Tanah.
2. Tanah hak milik tidak dapat menjadi objek penertiban Tanah Telantar kecuali jika dengan sengaja tidak dipergunakan, tidak dimanfaatkan, dan/atau tidak dipelihara sehingga:
dikuasai oleh masyarakat serta menjadi wilayah perkampungan;
dikuasai oleh pihak lain secara terus menerus selama 20 (dua puluh) tahun tanpa adanya hubungan hukum dengan Pemegang Hak; atau
fungsi sosial Hak Atas Tanah tidak terpenuhi, baik Pemegang Hak masih ada maupun sudah tidak ada.
Baca juga: Tanah Nganggur Bakal Dicaplok Negara, Ternyata Mau Dipakai buat Ini
3. Tanah hak guna bangunan, hak pakai, dan Hak Pengelolaan menjadi objek penertiban tanah telantar jika dengan sengaja tidak diusahakan, tidak dipergunakan, tidak dimanfaatkan, dan/atau tidak dipelihara terhitung paling cepat 2 (dua) tahun sejak diterbitkannya hak.
4. Tanah hak guna usaha menjadi objek penertiban tanah telantar jika dengan sengaja tidak diusahakan, tidak dipergunakan, dan/atau tidak dimanfaatkan terhitung paling cepat 2 (dua) tahun sejak diterbitkannya hak.
5. Tanah yang diperoleh berdasarkan Dasar Penguasaan Atas Tanah menjadi objek penertiban tanah telantar jika dengan sengaja tidak diusahakan, tidak dipergunakan, tidak dimanfaatkan, dan/atau tidak dipelihara terhitung paling cepat 2 (dua) tahun sejak diterbitkannya atau dibuatnya Dasar Penguasaan Atas Tanah.
Dalam Pasal 4 dijelaskan, objek yang disasar ini termasuk tanah di objek kawasan terlantar, yakni meliputi kawasan pertambangan, kawasan perkebunan, kawasan industri, kawasan pariwisata, kawasan perumahan/terpadu atau skala besar, dan kawasan lain yang pengusahaan, penggunaan, dan/atau pemanfaatannya didasarkan pada Izin/Konsesi/Perizinan Berusaha yang terkait dengan pemanfaatan tanah dan ruang.
Selama masyarakat merawat dan memanfaatkan tanah tersebut sesuai dengan izin yang dipegang serta memiliki sertifikat, tanah yang dimiliki akan bebas dari bayang-bayang aturan baru ini.
(aqi/das)
tanah telantar peraturan pemerintah tanah telantar diambil negara
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
detikInet
TWS Realme Buds Clip dan Realme Buds Air8 Meluncur di RI
detikNews
Geger Pria Ditemukan Tewas dalam Rumah di Jaksel, Ada Luka Tembak di Kepala
detikOto
Marquez Siap Perpanjang Kontrak dengan Ducati
detikHot
Kondisi Makam Vidi Aldiano Penuh Bunga
detikTravel
Keseruan Lebaran di Rumah Durian Pak Tukimin
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn
Hitung KPR
Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah
Simulasi KPR
Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!
Simulasi Take Over KPR
Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Tag Terpopuler
#
d'house hunter
#
properti
#
rumah subsidi
#
kpr
Infografis
Jurus AHY 'Gebuk' Mafia Tanah
Ke Halaman Infografis
part of
Connect With Us
Copyright @ 2026 detikcom.
All right reserved
Kategori
detikNews
detikEdukasi
detikFinance
detikInet
detikHot
detikSport
Sepakbola
detikOto
detikProperti
detikTravel
detikFood
detikHealth
Wolipop
detikX
20Detik
detikFoto
detikHikmah
detikPop
Layanan
berbuatbaik.id
Pasang Mata
Adsmart
detikEvent
Signature Awards
Trans Snow World
Trans Studio
Bingkai.id
Ziswafctarsa.id
Flying Over Indonesia
For Your Business
rekomendit
Community Connect
Informasi
Redaksi
Pedoman Media Siber
Karir
Kotak Pos
Media Partner
Info Iklan
Privacy Policy
Disclaimer
Jaringan Media
CNN Indonesia
CNBC Indonesia
Haibunda
Insertlive
Beautynesia
Female Daily
CXO Media




