Nganjuk Siap Tingkatkan Produksi Melon Nasional dengan Varietas Unggul
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Provinsi Jawa Timur memperkuat posisinya sebagai sentra utama produksi melon nasional dengan kontribusi mencapai 42 persen dari total produksi Indonesia.
Tahun 2023, dengan luas lahan tanam melon seluas 3.017 hektare, provinsi ini berhasil memproduksi sekitar 622.868 kuintal melon —angka yang menempatkannya sebagai tulang punggung pasokan buah segar di pasar domestik.
Namun di balik pencapaian tersebut, tantangan produksi terus mengintai. Cuaca yang tidak menentu dan tingkat kelembapan tinggi menyebabkan penyebaran virus tanaman, terutama di daerah sentra seperti Kediri, Madiun, dan Nganjuk.
Dampaknya terasa langsung pada kualitas buah: ukurannya menyusut, teksturnya kasar, dan tidak memenuhi standar pasar modern.
Walaupun rata-rata produktivitas melon meningkat menjadi 155 kuintal per hektare, inkonsistensi kualitas menjadi masalah utama, khususnya ketika musim tanam terganggu oleh anomali iklim.
Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Rudy Prasetya, mengakui hal ini sembari menyoroti peluang daerah seperti Nganjuk untuk berkontribusi lebih besar.
“Kabupaten Nganjuk baru menyumbang sekitar 2 persen. Ini peluang besar bagi Nganjuk untuk meningkatkan kontribusi. Dengan dukungan benih unggul seperti davina F1 dan pendampingan intensif, produktivitas petani bisa dilipatgandakan,” kata Rudy di sela-sela pemecahan rekor MURI dengan peserta terbanyak di Nganjuk belum lama ini.
Varietas ini digadang-gadang sebagai solusi atas tantangan iklim dan permintaan pasar modern.
Dengan karakteristik buah bertekstur lembut, kadar manis sedang, seragam, kokoh, serta memiliki daya simpan lebih lama, melon ini dianggap cocok untuk ritel maupun ekspor.
Direktur PT East West Seed Indonesia, Glenn Pardede, menjelaskan bahwa Davina F1 telah diuji di berbagai lokasi di Jawa Timur, mulai dari Madiun hingga Banyuwangi.
“Target kami bisa mencapai 45 ton per hektare. Kami tidak hanya menyiapkan benih, tapi juga tenaga lapangan yang mendampingi petani sejak awal tanam,” kata Glenn.
Momentum penting terjadi di Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, saat lebih dari 1.000 petani dari seluruh Jawa Timur berkumpul dalam panen raya melon di lahan seluas satu hektare pada 16 Juli 2025.
Kegiatan ini tercatat sebagai panen melon dengan peserta terbanyak oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)—yang mencatat untuk pertama kalinya rekor panen melon secara nasional.
Perwakilan MURI, Sri Widayati, mengapresiasi semangat kolaborasi antara petani dan dunia usaha.
“Kami menyaksikan kegiatan spektakuler yang mencerminkan komitmen bersama membangun sektor hortikultura yang modern,” ujarnya.
Petani asal Nganjuk, Suharyadi, menjadi contoh nyata transformasi di tingkat akar rumput.
“Sudah setahun saya tanam dan dalam 60 hari sudah bisa panen, jadi setahun bisa panen tiga kali. Hasilnya lebih banyak dan lebih bagus dibanding jenis sebelumnya,” ungkapnya.




