Koperasi Desa: Peluang Baru untuk Startup Berbasis Komunitas
detikNews Kolom
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan
Kolom
Koperasi Merah Putih: Ketika Desa Menjadi Startup
Senin, 28 Jul 2025 09:15 WIB
M Nafiul Haris
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta -
Di tengah gegap gempita pertumbuhan startup digital di kota-kota besar, desa acap kali hanya hadir sebagai latar belakang—tempat sumber daya diambil, bukan subjek yang menentukan arah. Itulah fenomena pahit yang nampaknya dahulu boleh dibilang sulit berubah jika tak mau dikata tak mungkin. Padahal, sejak lama Indonesia telah memiliki entitas ekonomi desa yang akrab disebut koperasi.
Kini, di bawah kepemimpinan baru Prabowo Subainto entitas itu coba dihidupkan kembali. Apalagi, jika ekonomi khas Indonesia tersebut, diberi napas baru melalui inovasi dan teknologi, bukan tidak mungkin desa justru akan menjadi sumber lahirnya startup masa depan: akar kuat, tumbuh tinggi.
Nampaknya, harapan-harapan itu kini patut kita yakini bakal menjadi kenyataan. Pasalnya, pemerintah secara resmi telah meluncurkan sebanyak 80.000 koperasi desa yang dipimpin langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (detikcom,21/7/2025). Hal itu, menjadi penanda bahwa impian koperasi bukanlah cita-cita usang masa lalu tengah serius dibenahi, adanya niatan serta komitmen kuat menghidupkan kembali bahkan mungkin memodernisasi tata kelola sistem warisan Bung Hatta itu semoga saja bukan sekadar seremoni.
Sehingga, bukan tidak mungkin koperasi bisa menjadi startup desa yang tumbuh dari desa—berbasis komunitas, demokratis dalam kepemilikan, dan adaptif terhadap zaman. Bukan sekadar usaha kolektif ala lama, tapi entitas tangkas yang menggabungkan gotong royong dengan manajemen modern dan digitalisasi.
Baca juga: Tiang Penyangga Perekonomian
Dari Warisan ke Arah Baru
Secara historis, koperasi lahir dari semangat kebersamaan. Nilai-nilainya—partisipasi, solidaritas, kemandirian—sejalan dengan semangat gotong royong yang telah menjadi DNA desa. Sayangnya, banyak koperasi di Indonesia terjebak dalam tata kelola yang usang: tertutup, administratif, dan minim inovasi.
Sementara itu, startup dikenal sebagai entitas yang adaptif, berbasis data, dan berorientasi solusi. Bila koperasi mampu mengadopsi prinsip-prinsip ini, ia tak hanya akan relevan kembali, tetapi justru melampaui model bisnis konvensional yang berisik mengejar valuasi. Bruce I. Newman dalam bukunya The Marketing of the President (1994) menyebut bahwa organisasi masa depan yang berhasil bukan yang paling canggih, tetapi yang paling mampu membangun hubungan emosional dan kepercayaan dengan komunitasnya. Di sinilah kekuatan laten koperasi berada.
Bukan hanya itu, pada belahan dunia telah membuktikan capaian koperasi apabila dijalankan secara profesional baik dari sisi managerial maupun bisnis. Data World Cooperative Monitor 2023 misalnya, memberi catatan bahwa koperasi-koperasi besar dunia seperti Mondrag_on Corporation di Spanyol dan Desjardins Group di Kanada sukses bersaing dengan korporasi global. Kunci sukses mereka tidak lain dan tidak bukan ialah tata kelola modern yang terbuka, akuntabel, dan berbasis teknologi.
Sehingga, telah adanya contoh kesuksesan dalam tata kelola koperasi sebenarnya Indonesia bisa belajar dari itu. Dengan menerapkan Enterprise Resource Planning (ERP) berbasis open-source misalnya, koperasi desa bisa mencatat transaksi secara real-time. Bukan hanya itu, dalam setiap membuat sebuah keputusan ditambahkan fiture e-voting untuk pengambilan keputusan strategis, dan dampak lebih besarnya kita punya koperasi digital yang transparan, demokratis, dan partisipatif.
Digitalisasi menjadi keniscayaan bukan hanya karena kondisi konsumen yang mengarah kesana. Namun, dari segi bisnis berdasarkan studi dari LIPI (2022) menunjukkan koperasi yang menerapkan digitalisasi mengalami kenaikan pendapatan hingga 25% dalam dua tahun. Meski menjanjikan, tantangannya nyata--baru sekitar 18% koperasi Indonesia yang benar-benar terdigitalisasi.
Desa Tak Lagi Sekadar Lumbung
Selain modernisasi tata kelola koperasi, kemudian kemampun sumberdaya manusia (SDM) dalam menjalankan bisnis berbasis koperasi yang tidak kalah penting ialah turut memberdayakan masyarakat desa. Data BPS 2023 menunjukkan sekitar 43% angkatan kerja Indonesia berada di desa. Namun, hanya sekitar 10% yang terlibat dalam usaha produktif skala pasar. Artinya, desa menyimpan potensi luar biasa yang mungkin selama ini masih tidur.
Coba bayangkan sebuah koperasi petani yang bukan hanya menjual beras, tetapi mengolahnya menjadi produk premium beras organik dengan merek sendiri yang dipasarkan lewat e-commerce. Atau, koperasi nelayan yang memproduksi olahan hasil laut dan menjualnya ke hotel-hotel besar dengan identitas lokal sebagai kekuatan brand.
Koperasi juga bisa menjelajah ke sektor jasa. Di beberapa wilayah, mulai tumbuh koperasi yang menyediakan layanan logistik desa, coworking space untuk anak muda, bahkan platform edukasi daring untuk siswa di pelosok. Unicorn di dunia startup biasanya merujuk pada valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS. Tapi, koperasi tidak perlu mengejar angka itu. Koperasi desa yang sukses meningkatkan pendapatan anggota, membuka lapangan kerja, dan menjaga keberlanjutan usaha kolektif adalah "unicorn sosial" yang sebenarnya.
Dalam bukunya Small is Beautiful (1973), ekonom E.F. Schumacher mengemukakan sesuatu yang kecil adalah indah jika dia dekat, manusiawi, dan memenuhi kebutuhan komunitas. Koperasi yang hidup di tengah masyarakat desa—selama ia tangkas, terbuka, dan terarah—adalah cermin dari filosofi ini. Startup kerap disebut sebagai disruptor. Tapi, koperasi desa yang dibenahi bisa menjadi "evolver"—bukan mengguncang untuk menghancurkan, tapi tumbuh bersama untuk memperkuat.
Sudah saatnya kita membalik arah pandang: dari pusat ke pinggiran, dari kota ke desa, dari konsumen ke pencipta nilai. Koperasi yang dibangun dengan tata kelola baru, keberanian bereksperimen, dan semangat kolaborasi digital bisa menjadi tulang punggung ekonomi masa depan Indonesia.
Namun, koperasi tak akan jadi motor perubahan jika tetap terjebak dalam pola lama. Ia harus menjadi startup komunitas: lincah, transparan, dan punya ambisi tumbuh tanpa meninggalkan nilai kolektif. Jika itu terjadi, maka "startup desa" bukan lagi sekadar wacana—melainkan masa depan yang sedang disemai dari bawah, pelan tapi pasti. (*)
M Nafiul Haris. Co-Founder Eventrue Digital Branding Indonesia
Simak juga Video: Melihat Koperasi Desa Merah Putih di Cileunyi Wetan Bandung
[Gambas:Video 20detik]
(imk/imk)
koperasi koperasi desa merah putih kolom
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
detikInet
Rumor God of War Terbaru: Faye Bakal Jadi Protagonis Selain Kratos
detikHot
Gak Liburan, Bara Valentino Pilih Jumat Berkah Bareng Anak Disabilitas
detikNews
Ragunan Ramai Pengunjung, Kendaraan Mengular di Pintu Masuk
detikOto
Jet Pribadi yang Angkut Panglima Militer Libya Jatuh di Turki, Begini Speknya
detikFood
Resep Aglio Olio Il Mare yang Spesial buat Tahun Baru
Wolipop
Ramalan Zodiak Cinta 8 Januari: Capricorn dan Sagitarius Mengalah Demi Cinta
detikTravel
Water Fountain Hidupkan Malam di Lapangan Banteng dan Dukungan untuk Sumatera
part of
Connect With Us
Copyright @ 2026 detikcom.
All right reserved
Kategori
detikNews
detikEdukasi
detikFinance
detikInet
detikHot
detikSport
Sepakbola
detikOto
detikProperti
detikTravel
detikFood
detikHealth
Wolipop
detikX
20Detik
detikFoto
detikHikmah
detikPop
Layanan
berbuatbaik.id
Pasang Mata
Adsmart
detikEvent
Signature Awards
Trans Snow World
Trans Studio
Bingkai.id
Ziswafctarsa.id
Flying Over Indonesia
For Your Business
rekomendit
Community Connect
Informasi
Redaksi
Pedoman Media Siber
Karir
Kotak Pos
Media Partner
Info Iklan
Privacy Policy
Disclaimer
Jaringan Media
CNN Indonesia
CNBC Indonesia
Haibunda
Insertlive
Beautynesia
Female Daily
CXO Media




