Kecamatan Langkahan Pimpin Jumlah Pengungsi Akibat Banjir di Aceh Utara
Ringkasan Berita:
Banjir Aceh Utara sejak 26 November 2025 masih menyisakan 25.973 jiwa atau 6.886 KK di pengungsi an hingga 6 Februari 2026.
Kecamatan Langkahan menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak, yakni 12.824 jiwa, disusul Lapang 5.790 jiwa dan Tanah Jambo Aye 2.664 jiwa.
Pengungsi tersebar di meunasah, masjid, sekolah, balai desa, serta rumah warga, sementara pemerintah mengimbau tetap waspada banjir susulan.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2025, masih menyisakan ribuan warga hidup di tempat pengungsi an.
Hingga Jumat (6/2/2026) sore sekira pukul 17.00 WIB, tercatat sedikitnya 10 kecamatan masih melaporkan keberadaan pengungsi, dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Langkahan.
Berdasarkan laporan resmi rekapitulasi bencana banjir Kabupaten Aceh Utara, total pengungsi saat ini mencapai 6.886 kepala keluarga (KK) atau 25.973 jiwa, yang tersebar di berbagai titik pengungsi an.
“Ini data dari kecamatan yang terus kita update setiap harinya,” ujar Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Aceh Utara, Fauzan, MAP kepada Serambinews.com, Jumat (6/2/2026).
Disebutkan, Kecamatan Langkahan menjadi wilayah paling terdampak dengan 3.476 KK atau 12.824 jiwa, masih bertahan di pengungsi an.
Selain Langkahan, jumlah pengungsi cukup besar juga tercatat di Kecamatan Lapang dengan 1.470 KK atau 5.790 jiwa.
Disusul Kecamatan Tanah Jambo Aye sebanyak 666 KK atau 2.664 jiwa, yang tersebar di puluhan titik pengungsi an.
Sementara itu, Kecamatan Sawang masih menampung 609 KK atau 2.155 jiwa, dan Kecamatan Muara Batu sebanyak 290 KK atau 1.188 jiwa.
Wilayah lain yang hingga kini masih terdapat pengungsi adalah Kecamatan Seunuddon dengan 187 KK atau 663 jiwa, Kecamatan Dewantara sebanyak 120 KK atau 386 jiwa, kemudian di Cot Girek 45 KK atau 162 jiwa.
Selain itu, Kecamatan Baktiya masih terdapat 19 KK atau 125 jiwa.
Para pengungsi umumnya menempati meunasah, masjid, sekolah, balai desa, serta rumah warga yang berada di lokasi lebih aman dari genangan banjir.
Banjir yang melanda Aceh Utara dipicu oleh tingginya curah hujan disertai meluapnya sejumlah sungai besar.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Khususnya di wilayah dataran rendah dan kawasan bantaran sungai, hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.




