Sentra News Day - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan optimisme terkait peluang komoditas kopi dan kakao asal daerahnya untuk memperluas pasar internasional. Melalui strategi hilirisasi dan penguatan ekosistem agroindustri, diharapkan daya saing serta kesejahteraan petani dapat meningkat.
Khofifah menekankan bahwa kekuatan kopi Jawa Timur terletak pada keragaman cita rasa yang dihasilkan dari karakter geografis masing-masing daerah. Oleh karena itu, pengembangan sektor perkebunan harus berfokus pada hilirisasi, pengolahan hasil, penguatan merek, sertifikasi, dan perluasan akses pasar global.
Dalam konteks ini, perubahan tren konsumsi global yang semakin mengutamakan produk berkelanjutan dan premium menjadi peluang untuk memperkuat posisi Jawa Timur sebagai sentra kopi nasional. Saat ini, Indonesia berada di urutan empat besar produsen kopi dunia, dengan Jawa Timur menyumbang pada lima besar provinsi penghasil kopi dengan produksi mencapai 80.895 ton. Daerah sentra produksi meliputi Kabupaten Malang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo.
Pemerintah Provinsi juga berupaya mengembangkan komoditas kakao melalui sistem klasterisasi di beberapa daerah, termasuk Blitar, Madiun, Trenggalek, dan Pacitan, sebagai bagian dari strategi diversifikasi sektor perkebunan.
Khofifah menegaskan bahwa kopi dan kakao adalah dua komoditas strategis yang harus terus ditingkatkan daya saingnya. Untuk itu, diperlukan peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas, standardisasi, sertifikasi, serta inovasi dalam pengolahan dan pemasaran digital. Ia juga mengapresiasi dukungan Bank Indonesia yang konsisten mendorong korporatisasi petani dan membuka akses ekspor melalui penyelenggaraan Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026.