Sentra News Day - Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menilai bahwa Indonesia tetap menjadi pasar yang menarik bagi industri e-commerce meskipun persaingan antarplatform semakin ketat. Peluang pertumbuhan masih terbuka lebar, terutama berkat meningkatnya digitalisasi UMKM dan penggunaan layanan digital dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Umum idEA, Budi Primawan, menyatakan bahwa meskipun persaingan dalam industri e-commerce semakin ketat dengan kehadiran pemain regional dan global, Indonesia tetap menarik bagi pelaku industri. Setiap platform e-commerce memiliki strategi, kekuatan, dan segmen pasar yang berbeda.
Budi mengungkapkan bahwa industri e-commerce Indonesia telah mencapai fase yang lebih matang, di mana perusahaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada pembangunan bisnis yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. Perubahan perilaku konsumen mendorong pelaku industri untuk berinovasi, dengan konsumen yang kini menginginkan pengalaman berbelanja yang praktis dan cepat.
Inovasi yang dilakukan mencakup pengembangan live commerce, video commerce, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta penguatan layanan logistik dan pembayaran digital. Selain itu, pendanaan ke sektor teknologi tidak sebesar beberapa tahun lalu, sehingga perusahaan lebih fokus pada pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan.
Budi menekankan pentingnya regulasi yang jelas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi untuk menciptakan ekosistem yang sehat bagi pelaku industri. Dia menyebutkan bahwa dialog antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci dalam membangun ekosistem e-commerce yang kuat dan berkelanjutan. Dalam laporan E-Commerce in Southeast Asia 2026, Shopee tercatat sebagai pemimpin pasar dengan pangsa 54%, diikuti oleh gabungan TikTok Shop dan Tokopedia dengan pangsa 38%. Keduanya menguasai sekitar 92% nilai transaksi kotor e-commerce Indonesia, sementara platform lain seperti Lazada dan Blibli mengalami penurunan pangsa pasar.