Desa Merah Mata: Sentra Tape Singkong Pemasok Utama Palembang
Ringkasan Berita:
Desa Merah Mata, Banyuasin dikenal sebagai sentra pemasok utama tape singkong bagi pasar-pasar tradisional di Kota Palembang.
Produksi kolektif para perajin melonjak drastis dari 1 ton pada hari biasa menjadi 5 ton per hari saat Ramadan guna memenuhi tingginya permintaan pasar.
Mayoritas perajin merupakan generasi ketiga dari perantau asal Jawa Tengah, seperti Semarang dan Pati.
TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN -- Aroma khas fermentasi ragi yang menyengat menyambut siapa saja yang melintasi Lorong Sidomulyo, RT 12, Desa Merah Mata, Kecamatan Banyuasin I, Sumsel.
Di balik pintu-pintu rumah warga, denyut ekonomi puluhan tahun terus terjaga melalui produksi tape singkong.
Desa Merah Mata kini dikenal sebagai sentra pemasok utama tape singkong bagi pasar-pasar tradisional di Kota Palembang.
Sedikitnya terdapat sembilan perajin mandiri yang secara konsisten menjaga cita rasa warisan leluhur.
Sukarno (50), salah satu perajin senior di desa tersebut, menuturkan bahwa keahlian mengolah singkong menjadi tape telah menjadi identitas yang diwariskan turun-temurun.
Ia bersama mayoritas perajin lainnya merupakan generasi ketiga dari perantau asal Jawa Tengah, seperti Semarang dan Pati.
"Kami lahir dan besar di Sumatera Selatan, namun resep asli dari tanah Jawa tetap kami jaga. Ini bukan sekadar usaha, tapi warisan yang harus kami teruskan," ujar Sukarno saat ditemui di kediamannya, kepada Tribunsumsel.com, Senin (13/4/2026).
Produksi Meningkat Saat Ramadan
Kemandirian ekonomi para perajin di Desa Merah Mata terbukti stabil. Dalam kondisi normal, total produksi kolektif dari sembilan perajin ini mampu mencapai 1 ton per hari.
Produk tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai titik, termasuk Pasar Perumnas Palembang.
Angka produksi ini mengalami lonjakan drastis saat bulan suci Ramadan. Permintaan pasar yang tinggi membuat total produksi kolektif meroket hingga 5 ton per hari.
Wahyu Ningsih (45), perajin lainnya, mengungkapkan bahwa selama bulan puasa, kapasitas produksinya mampu naik dua kali lipat.
"Pada hari biasa, saya mengolah 100 kilogram singkong. Saat Ramadan, produksinya bisa mencapai 200 kilogram per hari," kata Wahyu.
Secara bisnis, para perajin pun mampu menjaga stabilitas margin.
Dengan modal produksi sekitar Rp400.000 untuk 100 kilogram singkong, perajin mampu meraih keuntungan bersih berkisar antara Rp200.000 hingga Rp250.000 per hari di luar musim puncak. Adapun bahan baku singkong madu diperoleh dari kebun warga setempat dan pasokan tambahan dari daerah Indralaya, Ogan Ilir.
Potensi Ekonomi Desa
Kepala Desa Merah Mata, Seftian, membenarkan bahwa Dusun Sidomulyo merupakan salah satu penggerak ekonomi kreatif di wilayahnya.




