Banyumas Siap Menjadi Sentra Gula Kelapa Nasional dan Global
Sumber Foto: RRI.co.id
Sentra Hari

Banyumas Siap Menjadi Sentra Gula Kelapa Nasional dan Global

Banyumas berupaya memperkuat posisinya sebagai sentra gula kelapa nasional dan bahkan global. Pemerintah Kabupaten Banyumas melihat peluang pasar gula kelapa kristal dunia sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus berupaya mengubah peran daerah ini dari sekadar pemasok bahan mentah.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menekankan pentingnya pembentukan asosiasi petani gula kelapa di tingkat nasional yang akan berkantor pusat di Banyumas. Ia mencatat bahwa saat ini belum ada wadah kolektif yang dapat memperkuat posisi tawar para petani di tingkat nasional maupun internasional.

“Saya ingin membentuk asosiasi petani gula kelapa se-Indonesia, bukan asosiasi eksportir. Pusatnya di Banyumas,” ungkap Sadewo.

Sadewo menjelaskan bahwa sekitar 90 persen kebutuhan gula kelapa kristal dunia dipasok dari Indonesia, dan sekitar 80 persen dari pasokan tersebut berasal dari kawasan Banyumas Raya, yang mencakup Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan daerah sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa Banyumas memiliki peran strategis dalam rantai pasok global.

Namun, Bupati Sadewo mengingatkan bahwa kebijakan pengelolaan kelapa harus berorientasi pada hilirisasi. Ia berpendapat bahwa menjual kelapa hanya dalam bentuk buah tidak memberikan dampak ekonomi yang optimal bagi petani, meskipun permintaan ekspor dari negara seperti China terus meningkat.

“Kalau hanya menjual kelapa, tidak ada multiplier effect bagi petani. Yang dibutuhkan petani itu penghasilan harian. Kalau disadap, pagi sore bisa langsung dapat uang,” jelasnya.

Salah satu langkah konkret yang akan diambil adalah peremajaan tanaman kelapa, dengan mengganti kelapa dalam yang tinggi mencapai 15 hingga 20 meter dengan jenis kelapa genjah. Jenis kelapa ini lebih pendek dan aman untuk disadap, serta memiliki produktivitas nira yang sebanding dengan kelapa dalam.

Sadewo memberikan contoh bahwa seorang penderes pada musim terang maksimal hanya mampu menyadap sekitar 25 pohon kelapa tinggi per hari. Dengan menggunakan pohon kelapa yang lebih pendek, efisiensi kerja dan keselamatan petani dapat meningkat secara signifikan.