Wonosobo Siap Jadi Sentra Utama Bawang Putih Nasional
Sumber Foto: Sinar Tani
Sentra Utama

Wonosobo Siap Jadi Sentra Utama Bawang Putih Nasional

TABLOIDSINARTANI.COM, Wonosobo --- Swasembada bawang putih kian di depan mata, perluasan sentra semakin diperluas baik di Pulau Jawa maupun Luar Jawa.

Kasubdit Bawang Merah dan Sayuran Umbi Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Agung Sunusi dalam kunjungannya menyatakan bahwa Wonosobo saat ini kembali bangkit dalam pengembangan bawang putih.

Hal ini terlihat dari semangat kelompok tani di sentra utama yaitu Kertek, Kalikajar dan Watumalang melakukan perluasan tanam di wilayah ini.

Disamping itu Wonosobo juga sudah menjadi salah satu alternatif lokasi mitra importir dalam pemenuhan wajib tanam 5 persen.

"Saat ini, sudah ada lima perusahaan yang melakukan mitra dengan kelompok tani untuk pemenuhan wajib tanam. Melalui dana APBN 2018-2019 juga kami dorong seluas 250 hektare untuk menjadikan wilayah ini menjadi salah satu sentra bawang putih nasional," jelasnya.

Kepala Seksi Produksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan dan Hortikultura, Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Hari Susatyo mengatakan potensi pengembangan bawang putih bisa mencapai 1.000 hektare dan saat ini sudah tertanami sekitar sekitar 300 hektare.

"Kami intens mendorong dan membangkitkan semangat para kelompok tani untuk bisa mengembalikan kejayaan bawang putih seperti tahun 1980-an," bebernya.

Hari menambahkan, sentra utama bawang putih tersebar di tiga kecamatan yaitu Kalikajar, Kejajar dan Kertek.

Rencana pengembangan dan sekaligus perluasan bawang putih akan difokuskan di delapan kecamatan. Adapun kecamatan tersebut di antaranya Kertek, Kalikajar, Watumalang, Garung, Mojo Tengah, Kejajaran, Sapuran dan Kepil.

"Rata- rata ketinggian tempat antara 800 - 1.600 m dpl dengan struktur tanah lempung berpasir. Ini menandakan bahwa Wonosobo potensial untuk pengembangan bawang putih," pungkasnya.

Ketua kelompok tani Peta Mutiara, Ahmadi, Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek mengatakan bahwa kelompok binaannya yang beranggota 250 orang ini telah bermitra dengan importir dalam pemenuhan wajib tanam 5 persen seluas 50 hektar.

"Varietas yang kami tanam dominan lumbu hijau dan lumbu kuning. Rata - rata umur tanaman 30 hari sesudah tanam (HST), dengan ketinggian tempat berkisar 900 - 1.800 m dpl. Kebutuhan benih 300-500 kilogram per hektar. Di samping itu kami juga dibantu paket pupuk dasar seperti NPK. Kegiatan ini kami rasakan sangat bermanfaat bagi kelompok kami," ucapnya.

Hal senada di ungkapkan oleh Sumardi, petani di Desa Pagerejo dan Pagerotan Kertek yang mengaku sangat senang dengan pengembangan bawang putih di desanya.

"Ini bisa mengangkat kesejahteraan anggota kelompok dan kami harapkan bisa menjadi penopang untuk menyekolahkan anak," tuturnya.