Tumbangnya Startup Lokal Ancam Ketersediaan Talenta Digital di Indonesia
Sumber Foto: Tirto.id
Teknologi

Tumbangnya Startup Lokal Ancam Ketersediaan Talenta Digital di Indonesia

tirto.id - Ekosistem perusahaan rintisan atau startup dan unicorn di Indonesia masih harus menghadapi tech winter. Sebelum musim dingin industri teknologi tiba, ratusan startup dengan kinerja moncer sempat menjamur di Indonesia. Pendanaan dari dalam dan luar negeri pun sempat mengalir deras ke sejumlah startup.

Namun, pada tiga tahun belakangan, sebagian startup mengalami tantangan berat, dan bahkan tumbang. Persaingan yang kian sengit, kegagalan manajerial, hingga kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil menjadi segelintir faktor pemicu bubarnya startup lokal seperti Fabelio, Qlapa, CoHive, dan lain sebagainya. Situasi nyaris serupa dialami oleh sejumlah unicorn yang terseok-seok bisnisnya, sebut saja Bukalapak hingga Ruangguru.

Di antara mereka yang masih bertahan, ada juga yang memilih untuk memindahkan kantor pusatnya dari Indonesia ke Singapura seperti Traveloka. Perusahaan rintisan di sektor pariwisata digital asal Indonesia tersebut memindahkan kantor pusatnya dari BSD City di Kabupaten Tangerang ke Singapura mulai Juni 2025. Manajemen Traveloka menyatakan alasan pemindahan kantor pusat ini demi memperluas jaringan bisnis dan mempermudah akses ke sumber pendanaan internasional.

Badai PHK mengiringi tumbangnya sejumlah startup dan unicorn lokal tersebut. Zenius, sebuah startup pendidikan, melakukan PHK terhadap lebih dari 200 karyawannya dan menghentikan sementara operasional mereka pada 2024 kemarin. Sementara Fabelio, startup yang bergerak di bidang desain interior dan furniture, memberhentikan seluruh karyawannya usai dinyatakan pailit oleh pengadilan pada tahun 2022.

Perusahaan teknologi yang termasuk dalam jajaran unicorn seperti Bukalapak, mengutip dari Thestanceid, diketahui juga telah melakukan layoff pada 2024 terhadap 500 karyawannya. Jumlah itu setara separuh dari total karyawan Bukalapak. Demikian pula Ruangguru yang menyatakan melakukan PHK terhadap ratusan pekerjanya pada tahun 2022.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai ancaman brain drain menghantui Indonesia ketika sejumlah startup lokal, terutama yang sudah menjadi unicorn, bertumbangan.

“Yang pasti kesempatan untuk bekerja di perusahaan digital besar (unicorn) akan hilang dan menurunkan minat talenta digital kita. Ketika minat turun akan berdampak kepada institusi penghasil talenta digitalnya. Mungkin bagi mereka yang bisa bekerja di perusahaan luar, akan pindah ke luar. Dampaknya akan terjadi brain drain di Indonesia,” kata Nailul pada Jumat (8/8/2025).

Namun, Nailul juga melihat situasi saat ini dapat mendorong nilai talenta digital Indonesia bergerak menuju ke titik ekuilibrium, dengan gaji yang turun. Menurut Nailul, selama ini startup kecil sulit mencari talenta digital yang mumpuni karena ‘ rate -nya’ yang sulit dipenuhi oleh startup digital kecil.

“Jadi saya berharap ‘ rate ’ untuk talenta digital bisa berada di titik ekuilibrium,” ujar dia.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Riset Ekonomi Digital Pusat Studi Ekonomi CORE Indonesia, Etika Karyani Suwondo, yang menganggap tumbangnya startup dan unicorn lokal berdampak serius terhadap perekonomian nasional.

“Lima tahun terakhir ini adalah masa ekspansi besar bagi industri digital Indonesia. Kita melihat pertumbuhan pengguna internet, lonjakan investasi dan lahirnya beberapa unicorn lokal. Namun, sejak 2022 industri masuk fase koreksi akibat tekanan profitabilitas dan pendanaan yang mengetat,” kata Etika dalam keterangannya pada Kamis (7/8/2025)

“Industri kini fokusnya bergeser ke efisiensi, tata kelola dan keberlanjutan jangka panjang. Dan ketika perusahaan digital besar tumbang, pendapatan mereka ikut terdampak yang akhirnya berdampak pada efisiensi karyawan,” ujar dia melanjutkan.

Sementara itu, menurut peneliti ekonomi digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Dyah Ayu, tingginya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kemudian dikenal sebagai tech winter, terjadi karena turunnya investasi terhadap ekonomi digital di Indonesia.

“Penurunan daya tarik investasi terlihat dari penurunan kontribusi Indonesia terhadap total investasi digital Asia Tenggara, dari 34% pada 2020 menjadi 25% pada paruh pertama 2022. Meskipun Indonesia masih menjadi destinasi terbesar kedua setelah Singapura,” kata Dyah Ayu melalui pernyataan tertulis saat peluncuran CELIOS Outlook Ekonomi Digital 2025.

Di sisi lain, permasalahan talenta digital Indonesia tidak hanya pada maraknya PHK massal di perusahaan startup maupun unicorn lokal. Masih kurangnya jumlah talenta digital yang berkualitas juga menjadi persoalan tersendiri.

Dibandingkan negara ASEAN lain seperti Vietnam, Malaysia, Thailand dan Singapura, kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih rendah. Ini memperlemah daya saing Indonesia di pasar global. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya lebih keras dalam memperkuat sistem pendidikan serta pengembangan keterampilan SDM di tanah air untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja modern.

Kembali lagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan sebesar 8% oleh Presiden Prabowo Subianto memerlukan banyak sekali faktor pendukung. Salah satu faktor tersebut adalah investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, tanpa faktor pendukung yang memadai seperti talenta digital yang mumpuni, investasi tersebut akan sulit untuk direalisasikan, dan hal ini juga akan mengancam target pertumbuhan ekonomi tersebut.