Startup Indonesia Ungguli Perusahaan Besar dalam Adopsi AI
Sumber Foto: VOI.id
Ekonomi

Startup Indonesia Ungguli Perusahaan Besar dalam Adopsi AI

JAKARTA - Amazon Web Services (AWS) merilis riset baru yang mengungkapkan adanya kesenjangan adopsi kecerdasan buatan (AI) antara startup dan perusahaan besar.

Kondisi ini, menurut Director Strand Partners Nick Bonstow, berpotensi menciptakan "ekonomi dua tingkat", di mana startup teknologi bergerak lebih cepat dan melampaui pesaing-pesaing besar mereka yang belum mengintegrasikan AI secara menyeluruh.

“AI berperan penting dalam merampingkan rantai pasokan, mengurangi biaya operasional, dan meminimalkan limbah melalui algoritma pembelajaran mesin dan analitik prediktif,” kata Nick di sesi Media Briefing AWS Summit 2025, Kamis, 7 Agustus di Jakarta.

Meskipun adopsi AI semakin meluas di Indonesia, studi AWS yang baru saja dirilis bertajuk “Unlocking Indonesia’s AI Potential”, menemukan sebagian besar bisnis belum memanfaatkan penggunaannya secara mendalam,m.

Sebanyak 76% bisnis di Indonesia masih berfokus pada penggunaan dasar, seperti mendorong efisiensi dan menyederhanakan proses menggunakan AI – alih-alih berinovasi dalam mengembangkan produk baru atau mendisrupsi industri.

Sementara itu, hanya 11% dari bisnis yang mengadopsi AI telah mencapai tahap menengah, dan hanya 10% yang mencapai tahap integrasi AI paling transformatif, di mana AI bukan lagi sekadar alat, melainkan bagian inti dari pengembangan produk, pengambilan keputusan, dan model bisnis.

Berbeda dengan Startup, AWS melihat pelaku Startup lebih antusias dan inovatif dalam penggunaan AI di Indonesia, dan telah mengadopsi penggunaan AI paling maju jauh lebih cepat dibanding perusahaan yang lebih mapan.

Sebanyak 52% startup di Indonesia menggunakan AI dalam berbagai cara, dan 34% di antaranya membangun produk baru sepenuhnya berbasis AI, memanfaatkan teknologi ini secara maksimal.

Sebaliknya, 41% perusahaan besar menggunakan AI, namun hanya 21% dari mereka yang meluncurkan produk atau layanan baru berbasis AI, dan hanya 22% yang memiliki strategi AI yang komprehensif.

“Ini merupakan fenomena menarik yang kami lihat. Perusahaan besar juga berisiko tertinggal oleh startup yang lebih gesit dan bergerak cepat,” tambah Nick.