Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Tengah Tantangan Global
Jakarta, (5/5) - Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis data terbaru yang mencakup tiga indikator utama: Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan, dan Indeks Ketimpangan Gender (IKG). Informasi ini memberikan gambaran penting tentang perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif. Beberapa negara mitra dagang mengalami tekanan, di mana ekonomi Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,0 persen, Jepang 1,8 persen, dan Singapura 3,8 persen. Sementara itu, Korea Selatan mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada triwulan I-2025.
Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2025 mencatat pertumbuhan sebesar 4,87 persen (y-o-y). Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan 5,11 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, tren pertumbuhan tetap terjaga. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebutkan bahwa sektor pertanian tumbuh signifikan, diikuti oleh industri makanan dan minuman yang solid, serta sektor transportasi. Selain itu, momen Ramadan dan Idulfitri menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.
Amalia juga menjelaskan bahwa dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh sebesar 6,78 persen, didorong oleh peningkatan ekspor berbagai komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak, besi dan baja, serta mesin dan peralatan listrik. Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara turut berkontribusi dalam pertumbuhan ekspor jasa. Sementara itu, konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar 1,38 persen akibat normalisasi belanja pemerintah pasca Pemilu. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) mencatat pertumbuhan 2,12 persen meskipun melambat di tengah ketidakpastian global.
Dari segi sektor usaha, sektor pertanian mencatat pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, yaitu sebesar 10,52 persen. Capaian ini berbanding terbalik dengan triwulan yang sama tahun lalu ketika sektor pertanian mengalami kontraksi sebesar 3,54 persen. Amalia mengungkapkan bahwa kinerja positif ini didorong oleh peningkatan produksi padi dan jagung, serta meningkatnya permintaan domestik. Sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang utama PDB dengan pertumbuhan 4,55 persen, sedangkan sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,72 persen, mencerminkan peningkatan kontribusi digitalisasi dalam ekonomi nasional.
Secara spasial, Pulau Jawa mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,99 persen dan Sulawesi 6,40 persen, keduanya di atas rata-rata nasional. Wilayah Maluku dan Papua juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 1,69 persen, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tingkat Pengangguran Terbuka Menurun
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Februari 2025 tercatat 4,76 persen, menurun dibandingkan 4,82 persen pada Februari 2024. Meskipun terjadi penurunan TPT, jumlah penganggur secara absolut meningkat dari 7,20 juta menjadi 7,28 juta orang, akibat jumlah angkatan kerja yang bertambah lebih cepat daripada penyerapannya. Proporsi pekerja informal juga meningkat dari 59,17 persen pada Februari 2024 menjadi 59,40 persen pada Februari 2025.
Dalam setahun terakhir, terdapat tambahan 3,59 juta orang yang masuk ke pasar kerja. Tiga lapangan usaha dengan peningkatan jumlah tenaga kerja terbesar adalah Perdagangan (0,98 juta orang), Pertanian (0,89 juta orang), dan Industri Pengolahan (0,72 juta orang).
BPS membagi penduduk bekerja ke dalam tiga kategori: pekerja penuh waktu (minimal 35 jam per minggu), pekerja paruh waktu (kurang dari 35 jam per minggu tetapi tidak mencari pekerjaan), dan setengah pengangguran (kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari pekerjaan). Pada Februari 2025, proporsi pekerja penuh waktu tercatat 66,19 persen, pekerja paruh waktu 25,81 persen, dan setengah pengangguran 8,00 persen.
Perbaikan Indeks Ketimpangan Gender
Indikator terakhir yang dirilis BPS adalah Indeks Ketimpangan Gender (IKG), yang mengukur ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam tiga dimensi: Kesehatan Reproduksi, Pemberdayaan, dan Pasar Tenaga Kerja. Nilai IKG Indonesia menunjukkan perbaikan, dengan nilai IKG tahun 2024 sebesar 0,421, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 0,447. Penurunan IKG tahun 2024 mencatatkan penurunan sebesar 5,82 persen, dua kali lipat dari rata-rata penurunan tahun 2018-2023.
Beberapa komponen IKG menunjukkan perkembangan yang positif, seperti penurunan angka kelahiran tidak di fasilitas kesehatan dan penurunan gender gap dalam persentase anggota legislatif. Namun, ketimpangan antarwilayah masih ada, dengan IKG di 22 provinsi masih di atas angka nasional. Beberapa provinsi di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mencatat capaian IKG yang lebih baik dari angka nasional.
Pada tahun 2024, BPS untuk pertama kalinya menyajikan IKG untuk 38 provinsi, termasuk Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua dan Papua Barat, yang didukung oleh ketersediaan data DPRD menurut jenis kelamin di wilayah tersebut.




