Sentra News Day - MAJALAH ICT – Jakarta. Ekosistem startup Indonesia pernah berada dalam fase yang sangat optimistis. Pendanaan mengalir deras, valuasi melonjak cepat, dan istilah unicorn menjadi simbol keberhasilan ekonomi digital nasional. Pada masa itu, startup dipandang sebagai wajah baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, lanskap tersebut berubah cukup drastis.
Era pertumbuhan tanpa batas perlahan berakhir. Investor mulai lebih berhati-hati, efisiensi menjadi kata kunci, dan pasar tidak lagi hanya melihat pertumbuhan pengguna semata. Di tengah perubahan tersebut, nasib startup Indonesia pun bergerak ke arah yang berbeda-beda.
Ada yang berhasil bertahan dan semakin kuat. Ada yang mulai kehilangan momentum. Dan ada pula yang perlahan menghilang dari peta persaingan.
GoTo Group: Bertahan di Tengah Tekanan
GoTo tetap menjadi salah satu pemain terbesar di ekosistem digital Indonesia. Setelah merger antara Gojek dan Tokopedia, perusahaan ini menjadi simbol konsolidasi industri teknologi nasional.
Namun perjalanan GoTo tidak sepenuhnya mulus. Setelah euforia IPO, perusahaan menghadapi tekanan besar untuk mencapai profitabilitas. Strategi “bakar uang” yang sebelumnya menjadi ciri startup generasi pertama mulai ditinggalkan.
Meski demikian, GoTo masih dianggap memiliki fondasi kuat karena ekosistem bisnisnya yang luas, mulai dari transportasi, e-commerce, hingga layanan keuangan.
Traveloka: Bangkit Setelah Krisis
Pandemi sempat menjadi pukulan besar bagi Traveloka. Industri perjalanan praktis berhenti, dan bisnis perusahaan ikut terdampak.
Namun berbeda dengan banyak startup lain, Traveloka mampu bertahan dan melakukan penyesuaian model bisnis. Perusahaan memperluas layanan ke sektor gaya hidup dan keuangan untuk menjaga relevansi.
Kemampuan beradaptasi inilah yang membuat Traveloka tetap diperhitungkan.
Xendit: Naik Daun di Era Pembayaran Digital
Di tengah pertumbuhan ekonomi digital, sektor pembayaran menjadi salah satu area yang berkembang paling cepat.
Xendit menjadi salah satu startup yang berhasil memanfaatkan momentum tersebut. Fokus pada infrastruktur pembayaran digital membuat perusahaan ini tumbuh kuat di sektor B2B.
Berbeda dengan startup konsumen yang sangat bergantung pada subsidi, model bisnis seperti Xendit dinilai lebih berkelanjutan.
Ruangguru: Antara Ekspansi dan Realita Pasar
Ruangguru pernah menjadi simbol booming edtech di Indonesia, terutama saat pandemi mendorong lonjakan pembelajaran digital.
Namun ketika situasi kembali normal, tantangan mulai muncul. Pertumbuhan pengguna tidak lagi secepat sebelumnya, sementara tekanan efisiensi meningkat.
Perusahaan tetap bertahan, tetapi harus melakukan berbagai penyesuaian untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Bukalapak: Kehilangan Momentum
Bukalapak menjadi salah satu startup Indonesia yang paling menarik untuk diamati.
Sebagai salah satu pionir e-commerce lokal, Bukalapak pernah berada di garis depan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, posisinya mulai melemah di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Strategi bisnis perusahaan berubah, fokus bergeser, dan performa pasar tidak lagi sekuat sebelumnya. Bukalapak masih ada, tetapi pengaruhnya tidak sebesar era awal pertumbuhan startup Indonesia.
Zenius: Dari Pelopor Menjadi Korban Persaingan
Zenius pernah dikenal sebagai salah satu pionir edtech Indonesia. Platform ini bahkan hadir jauh sebelum tren pembelajaran online menjadi populer.
Namun perkembangan industri yang sangat cepat membuat persaingan semakin berat. Di tengah tekanan bisnis dan pendanaan, operasional Zenius akhirnya mengalami kesulitan besar dan sempat menghentikan sebagian aktivitasnya.
Kisah Zenius menjadi pengingat bahwa menjadi pelopor tidak selalu menjamin keberlangsungan.
JD.ID: Pergi dari Indonesia
JD.ID menjadi salah satu contoh startup atau platform teknologi besar yang akhirnya memilih meninggalkan pasar Indonesia.
Meski didukung grup besar dari China, persaingan e-commerce di Indonesia ternyata terlalu berat. Biaya operasional tinggi dan kompetisi harga membuat bisnis sulit bertahan.
Penutupan JD.ID menunjukkan bahwa pasar Indonesia memang besar, tetapi juga sangat kompetitif.
KoinWorks: Bertahan Lewat Fokus dan Efisiensi
Di tengah ketatnya industri fintech, KoinWorks menjadi salah satu startup yang mencoba bertahan melalui pendekatan yang lebih realistis.
Fokus pada pembiayaan UMKM dan penguatan model bisnis membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam ekspansi.
Di era ketika investor mulai menuntut profitabilitas, strategi seperti ini menjadi semakin penting.
Era Baru Startup Indonesia
Perjalanan berbagai startup tersebut menunjukkan bahwa ekosistem teknologi Indonesia sedang memasuki fase baru.
Jika sebelumnya pertumbuhan menjadi ukuran utama, kini keberlanjutan bisnis mulai menjadi perhatian yang lebih besar.
Investor tidak lagi hanya melihat jumlah pengguna atau valuasi. Mereka mulai mempertanyakan jalur profitabilitas, efisiensi operasional, dan kekuatan model bisnis.
Akibatnya, startup yang mampu bertahan bukan lagi yang paling agresif membakar uang, tetapi yang paling adaptif menghadapi perubahan.
Dari Euforia ke Kedewasaan
Ekosistem startup Indonesia sebenarnya tidak sedang runtuh. Yang terjadi adalah proses pendewasaan.
Pasar mulai bergerak lebih realistis. Perusahaan dipaksa membangun bisnis yang lebih sehat. Dan kompetisi tidak lagi hanya soal pertumbuhan cepat, tetapi juga kemampuan bertahan.
Di tengah perubahan tersebut, hanya startup yang memiliki fondasi kuat dan relevansi nyata yang akan terus berkembang.
Sisanya perlahan akan turun kelas—atau menghilang.