Perdebatan Natalius Pigai dan Zainal Arifin soal Pemahaman HAM
Sentra News Day - PORTAL JOGJA - Perdebatan antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dan pakar hukum tata negara Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng, bermula dari pernyataan Pigai di media sosial terkait pemahamannya tentang hak asasi manusia sejak usia dini.
Cuitan tersebut kemudian memicu respons Zainal dan berujung pada saling balas pernyataan yang menyinggung soal esensi pemahaman HAM hingga tantangan debat terbuka di televisi nasional.
Berawal dari Pengalaman Hidup di Papua
Dalam unggahannya, Natalius Pigai menyebut bahwa pemahamannya tentang HAM telah terbentuk sejak kecil, bahkan sejak lahir, karena tumbuh di tengah konflik bersenjata di Papua.
“Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, Saya sudah hidup di tengah moncong senjata. Enarotali Paniai pusat perang antara OPM dan Militer Indonesia. Disitu saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat, bagaimana orang jerit, ratap dan rinti, haus dan lapar, adil dan tidak adil. Mana sakit dan senang. Itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya,” tulis Pigai seperti dikutip dari akun resminya di platform X.
Pigai menegaskan bahwa pengalaman hidup tersebut membentuk karakter dan integritasnya selama puluhan tahun sebagai pembela kaum tertindas.
“Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppreso liber). Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini,” lanjutnya.
Dalam cuitan yang sama, Pigai juga menyindir kalangan akademisi dengan menyatakan, “Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yg tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang ‘dibesar-besarkan’.”
Zainal Tantang Diskusi Ilmiah
Menanggapi pernyataan tersebut, Zainal Arifin Mochtar merespons dengan nada terbuka namun kritis. Ia menyatakan siap berdiskusi dan mendalami berbagai kasus HAM di Indonesia bersama Pigai.
“Pak @Natalius Pigai2 saya setuju dgn bapak, seringkali profesor itu dibesar2kan saja. Sy izin mau belajar memahami HAM dari bapak. Saya mau diskusi dan debatkan satu persatu kasus HAM di indonesia yang katanya bapak udah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan dimana saya bisa belajar,” tulis Zainal.




