Sentra News Day - PENYUSUTAN lahan sawah di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam delapan tahun terakhir mulai berdampak pada produksi padi. Sejak 2018 hingga 2024, luas sawah di kabupaten ini terdata berkurang hampir 3.000 hektare—dari sekitar 18.000 menjadi kurang lebih 15.000 hektare.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto mengatakan alih fungsi lahan menjadi penyebab utama penyusutan tersebut. “Tekanan pembangunan permukiman dan properti cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Itu yang paling banyak menggerus lahan sawah produktif,” ujar Rofiq, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut dia, pemerintah daerah berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelindungan lahan pertanian melalui skema lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) serta peningkatan produktivitas. “Kami mendorong intensifikasi pertanian agar produksi tetap optimal meski luas lahan berkurang,” katanya.
Namun data produksi menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Sepanjang Januari hingga September 2024, produksi padi Sleman tercatat 178.899 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut dinilai belum mampu menyamai capaian sejumlah daerah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengaku prihatin melihat perbandingan itu, terutama ketika disandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul. “Ini menjadi bahan evaluasi serius bagi kami,” kata Danang.
Ia menegaskan, penurunan produksi tidak terlepas dari perubahan struktur penggunaan lahan. Alih fungsi sawah menjadi kawasan pemukiman dan properti disebutnya sebagai faktor dominan yang secara bertahap mengurangi kapasitas produksi pangan. “Ketika lahan menyusut, dampaknya pasti terasa pada produksi,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kontras yang cukup tajam. Pada 2025, Gunungkidul mencatat produksi padi mencapai 299.624 ton GKG, melampaui target 291.000 ton. Produktivitas rata-rata mencapai 5,6 ton per hektare dengan luas lahan sekitar 55.576 hektare.
Peningkatan di daerah itu didorong penggunaan varietas unggul dan penguatan infrastruktur irigasi, termasuk pembangunan sumur bor. Secara total, produksi padi Gunungkidul naik hampir 30.000 ton dibanding tahun sebelumnya.
Sebaliknya, Sleman kini menghadapi perubahan karakter pertanian. Selain padi, kabupaten ini semakin bertumpu pada komoditas hortikultura seperti melon dan semangka yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Meski diversifikasi dinilai positif, Danang menekankan bahwa ketahanan pangan tetap menjadi prioritas utama.
“Kita tidak boleh kehilangan basis produksi padi. Itu menyangkut kedaulatan pangan daerah,” katanya.