Pengungsi Bireuen Hadapi Ramadhan di Tenda Darurat Tanpa Hunian Layak
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

Pengungsi Bireuen Hadapi Ramadhan di Tenda Darurat Tanpa Hunian Layak

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen hingga kini masih bertahan di tenda darurat. Mereka terpaksa tinggal di lokasi pengungsian karena belum tersedianya hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap).

Kondisi para pengungsi semakin memprihatinkan, terlebih di bulan suci Ramadhan. Saat hujan turun, air kerap masuk ke dalam tenda menggenangi alas tidur mereka. Sebaliknya, ketika cuaca panas, suhu di dalam tenda terasa gerah dan panas membuat para pengungsi, terutama anak-anak dan lansia, tidak nyaman.

“Kalau ada huntara, tentu kami tidak perlu berbulan-bulan tinggal di tenda seperti ini,” ujar Imran salah seorang pengungsi di Kecamatan Juli, Sabtu 21 Februari 2026.

Berdasarkan data pengungsi tersebar di 28 desa pada tujuh kecamatan, yakni Kutablang, Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Jangka, Juli, dan Jeumpa. Mereka masih menanti kejelasan realisasi pembangunan hunian yang layak dari pemerintah daerah.

Salah satu titik pengungsian berada di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli. Di lokasi tersebut, sebanyak 43 kepala keluarga masih bertahan di tenda darurat yang berdiri di kawasan lintas nasional Bireuen–Takengon Km 9. Tenda-tenda itu menjadi tempat tinggal sementara sejak bencana melanda akhir tahun lalu.

Mayoritas penghuni tenda darurat merupakan anak-anak, perempuan, dan lanjut usia. Hingga kini, para korban hanya bisa berharap adanya percepatan pembangunan huntara dan huntap agar mereka segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak dan aman.