Pelantikan Pengurus Pusat ISEI Periode 2024-2027: Komitmen untuk Mendorong Program Asta Cita
Jakarta – Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) telah resmi melantik Pengurus Pusat ISEI (PP ISEI) dan Pengurus Perkumpulan Istri ISEI (PIISEI) untuk periode 2024-2027. Pelantikan tersebut berlangsung dalam rangkaian acara Kongres ISEI XXII yang diadakan di Surakarta, Jawa Tengah, pada 20 September 2024.
Perry Warjiyo, yang juga menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, terpilih kembali sebagai Ketua Umum ISEI untuk periode ini secara aklamasi. Dalam acara pelantikan, Perry menyerahkan dua buku penting, yaitu "70 Tahun ISEI Membangun Ekonomi Negeri" dan "Kelampauan, Kekinian, dan Hari Depan – Sumbangan Pemikiran Sarjana Ekonomi Indonesia 1955 – 2025" kepada sejumlah tokoh nasional dan mantan Ketua Umum ISEI.
Diskusi Panel Terkait Perekonomian
Acara pelantikan juga dirangkaikan dengan diskusi panel yang membahas tiga topik utama: peningkatan daya saing industri, penguatan ketahanan pangan, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul. Diskusi yang bertajuk "Mengakselerasi Transformasi Ekonomi Nasional: Strategi Pengembangan Hilirisasi Industri, Ketahanan Pangan, dan SDM Unggul" diadakan di Jakarta pada 17 Januari 2025.
Narasumber dalam diskusi tersebut antara lain Raden Pardede, Anggota Dewan Pengawas ISEI; Bayu Krisnamurthi, Ketua Bidang Perumusan Kebijakan Sektor Riil & Struktural PP ISEI dan Guru Besar Universitas IPB; serta Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Moderator diskusi adalah Aviliani, Wakil Ketua Bidang Kerjasama Dalam Negeri PP ISEI.
Perry Warjiyo menyatakan bahwa diskusi ini merupakan momentum penting untuk merefleksikan kontribusi ISEI selama 70 tahun dalam pembangunan bangsa. Ia berharap hasil diskusi dapat memberikan rekomendasi strategis yang relevan dengan tantangan global dan dinamika domestik.
Tantangan Perekonomian Indonesia
Perry menyoroti perjalanan panjang ISEI yang telah berkontribusi dalam mengatasi berbagai tantangan perekonomian Indonesia, mulai dari krisis hyperinflasi pada tahun 1965 hingga pandemi COVID-19. Ia menekankan pentingnya inovasi dan sinergi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah untuk memperkuat keberlanjutan dan dampak positif ISEI terhadap perekonomian.
ISEI berkomitmen untuk mendukung program Asta Cita pemerintah, yang mencakup lima program strategis: menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan, mengembangkan hilirisasi sumber daya alam, membangun ketahanan pangan, mengakselerasi digitalisasi, dan memperkuat SDM melalui program sertifikasi profesi.
Berdasarkan laporan World Competitiveness Ranking (WCR, 2024), Indonesia mengalami peningkatan peringkat daya saing dari posisi ke-34 menjadi ke-27, yang mencerminkan peningkatan kinerja ekonomi, terutama di sektor industri. Namun, tantangan di sektor pangan dan angka malnutrisi yang masih tinggi menunjukkan perlunya strategi yang lebih terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan.
Perry menegaskan pentingnya sektor pertanian sebagai prioritas dalam program Asta Cita, termasuk adopsi teknologi pertanian modern, perluasan akses pasar bagi petani, dan penerapan program makan bergizi gratis.
Dalam konteks pengembangan SDM, ia mencatat rendahnya Human Capital Index (HCI) Indonesia yang hanya mencapai 0,53, mengindikasikan bahwa anak-anak Indonesia hanya mampu mencapai 53 persen dari potensi produktivitasnya di masa depan. Oleh karena itu, penguatan pendidikan vokasi, peningkatan kualitas guru, dan pengembangan riset menjadi prioritas yang perlu dipercepat untuk meningkatkan daya saing bangsa.




