Natalius Pigai Tegaskan Pemahaman HAM Berdasarkan Pengalaman Hidup
Sentra News Day - SULSEL.FAJAR.CO.ID - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai melontarkan respons keras terhadap sindiran Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar yang mempertanyakan klaimnya memahami HAM sejak usia lima tahun. Pigai menegaskan, pemahamannya tentang hak asasi manusia tidak lahir dari teori akademik, melainkan dari pengalaman hidup di wilayah konflik.
“Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, saya sudah hidup di tengah moncong senjata,” ujar Pigai melalui akun media sosialnya.
Pigai menyebut dirinya lahir dan tumbuh di Enarotali, Paniai, wilayah yang lama bergulat dengan ketegangan dan kekerasan. Lingkungan itu, kata dia, menjadi “laboratorium HAM” paling nyata dalam hidupnya—tempat ia menyaksikan langsung ketidakadilan, ketakutan, kelaparan, hingga penderitaan masyarakat.
Di sanalah, menurut Pigai, kesadarannya tentang nilai-nilai fundamental kemanusiaan terbentuk. Ia mengaku memahami sejak dini bagaimana tipisnya batas antara hidup dan mati, antara rasa aman dan ancaman kekerasan.
“Di situlah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia,” tegasnya.
Bagi Pigai, pengalaman empiris itu memberi kedalaman makna yang tak bisa digantikan oleh pembelajaran formal. Ia menilai HAM bukan sekadar norma hukum atau pasal dalam undang-undang, melainkan realitas hidup yang menyangkut martabat manusia di lapangan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas kritik Zainal Arifin Mochtar, yang sebelumnya menyindir klaim Pigai memahami HAM sejak usia kanak-kanak. Dalam responsnya, Pigai bahkan menyebut Zainal sebagai “guru yang dibesar-besarkan”, frasa yang memantik polemik baru di ruang publik.




