Natalius Pigai Kritik Cara BEM UGM Sampaikan Protes terhadap Pemerintah
MENTERI Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyoroti cara Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah. Belakangan, Tiyo mengalami teror yang diduga berkaitan dengan kritik tersebut.
Natalius Pigai menyayangkan kritik BEM UGM yang menyebut program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat, bertujuan memuluskan agenda politik pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. Menurut dia, kritik tersebut dapat menyakiti hati rakyat karena pemerintah merancang program-program itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kok enggak tahu perasaan orang kecil yang membutuhkan makanan? Kenapa dikaitkan dengan Pemilu 2029? Artinya negara tidak boleh kasih buat orang kecil kalau hanya hitung-hitungan pemilu,” ujarnya di Kantor Kementerian HAM, Jakarta Selatan, Jumat, 20 Februari 2026.
Menteri HAM menegaskan kritik merupakan hak asasi manusia yang undang-undang lindungi. Namun, ia membedakan kritik dengan penghinaan. Ia meminta generasi muda belajar mengontrol etika saat menyampaikan kritik agar kritik tersebut bersifat membangun dan membantu program pemerintah berjalan lebih baik.
Sebagai mantan aktivis 1998, Natalius Pigai mengaku selalu menyampaikan kritik kepada pemerintah secara etis tanpa menghina. Menurut dia, sikap itu turut menunjang perjalanan karier politiknya. Ia pernah menjabat sebagai staf khusus Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada era Presiden Abdurrahman Wahid, kemudian menjadi komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada 2012, dan menjabat Menteri HAM pada 2024.
“Saya enggak pernah menghina Soeharto. Saya menjaga etika, martabat, maka saya jadi Menteri,” katanya.
Tiyo Ardianto menerima teror setelah memprotes kelalaian pemerintahan Presiden Prabowo dalam mencegah tragedi bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur. Empat hari setelah BEM mengkritik Prabowo, Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor berkode Inggris. Selain ancaman penculikan, pengirim pesan juga menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
Teror tersebut juga menyasar orang tua Tiyo. Ia menuturkan pelaku mengirim pesan kepada ibundanya pada Sabtu malam, 14 Februari 2026. Pesan itu berisi tuduhan bahwa Tiyo menggelapkan dana kampus.
Pengirim pesan menyertakan foto Tiyo dengan keterangan Ketua BEM UGM “tilep” dana penggalangan untuk mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar. Setelah menerima pesan tersebut, ibu Tiyo merasa waswas. “Saya yakinkan ibu bahwa tidak akan ada apa-apa,” kata Tiyo saat dihubungi, Ahad, 15 Februari 2026.
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memantau dan memberikan perlindungan kepada Tiyo atas serangkaian teror dari orang tak dikenal. Tiyo juga mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Berbagai kalangan mengecam teror terhadap Tiyo dan mendesak aparat mengungkap aktor intelektual di baliknya. Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Hilman Mufidi dan Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik turut menyuarakan desakan tersebut.




