Menteri HAM Tegaskan Pemerintah Tidak Terlibat dalam Teror BEM UGM
Sumber Foto: Tempo.co
Hukum

Menteri HAM Tegaskan Pemerintah Tidak Terlibat dalam Teror BEM UGM

MENTERI Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan pemerintah tidak terlibat dalam teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. Tiyo mengalami teror setelah menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Pigai mengaku belum membaca berita mengenai teror terhadap Tiyo. Ia juga tidak mengetahui pelaku yang mengirim teror tersebut. “Yang jelas, saya menegaskan, pemerintah tidak pernah, tidak akan pernah (melakukan teror kepada pengkritik),” ujar Pigai di Kantor Kementerian HAM, Jakarta Selatan, Jumat, 20 Februari 2026.

Menteri HAM itu menyatakan pemerintah tidak akan menggunakan hukum sebagai alat untuk membungkam masyarakat. Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto juga telah menyatakan bahwa penguasa tidak boleh memakai hukum untuk membungkam hak asasi warga negara.

“Tapi kalau Anda bikin rekayasa sendiri atau orang lain yang teror, itu urusan polisi,” kata Pigai. Ia meminta polisi segera mengungkap pelaku teror agar persoalan tersebut tidak menjadi bola liar.

Meski demikian, Pigai menyayangkan kritik BEM UGM yang menyebut program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat, bertujuan memuluskan agenda politik pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. Menurut dia, kritik tersebut dapat menyakiti hati rakyat karena pemerintah merancang program-program itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kok enggak tahu perasaan orang kecil yang membutuhkan makanan? Kenapa dikaitkan dengan Pemilu 2029? Artinya negara tidak boleh kasih buat orang kecil kalau hanya hitung-hitungan pemilu,” ujarnya.

Pigai menegaskan kritik merupakan hak asasi manusia yang undang-undang lindungi. Namun, ia membedakan kritik dengan penghinaan. Ia meminta generasi muda mengontrol etika saat menyampaikan kritik agar kritik tersebut bersifat membangun dan membantu program pemerintah berjalan lebih baik.

Tiyo Ardianto menerima teror setelah memprotes kelalaian pemerintahan Presiden Prabowo dalam mencegah tragedi bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur. Empat hari setelah BEM mengkritik Prabowo, Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor berkode Inggris. Selain ancaman penculikan, pengirim pesan juga menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.

Teror itu juga menyasar orang tua Tiyo. Ia menuturkan pelaku mengirim pesan kepada ibundanya pada Sabtu malam, 14 Februari 2026. Pesan tersebut berisi tuduhan bahwa Tiyo menggelapkan dana kampus.

Pengirim pesan menyertakan foto Tiyo dengan keterangan Ketua BEM UGM “tilep” dana penggalangan untuk mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar. Setelah menerima pesan itu, ibu Tiyo merasa waswas. “Saya yakinkan ibu bahwa tidak akan ada apa-apa,” kata Tiyo saat dihubungi, Ahad, 15 Februari 2026.

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memantau dan memberikan perlindungan kepada Tiyo atas serangkaian teror dari orang tak dikenal. Tiyo juga mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Berbagai kalangan mengecam teror terhadap Tiyo dan mendesak aparat mengungkap aktor intelektual di baliknya. Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Hilman Mufidi dan Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik termasuk pihak yang menyuarakan desakan tersebut.