Menteri HAM: Penolakan Makan Bergizi Gratis Merupakan Serangan terhadap Hak Asasi
Sumber Foto: kalderanews.com
Hukum

Menteri HAM: Penolakan Makan Bergizi Gratis Merupakan Serangan terhadap Hak Asasi

Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Ada-ada saja pernyataan menarik yang keluar dari lisan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai.

Di tengah panasnya isu teror yang menimpa Ketua BEM UGM, Tiyo Adrianto, Pigai justru mengeluarkan pernyataan menohok dengan melabeli pihak-pihak yang ingin meniadakan program pemerintah sebagai sosok yang tak punya nurani.

Pigai menegaskan bahwa program unggulan Presiden Prabowo Subianto, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga pendidikan dan cek kesehatan gratis, adalah pengejawantahan nyata dari nilai-nilai HAM.

BACA JUGA:

Wow! Mau Bangun Universitas HAM Pertama di Dunia, Menteri Natalius Pigai Minta Anggaran Rp 20 Triliun

Daftar Menteri Terbaik dan Terburuk di 100 Hari Kinerja Kabinet Prabowo-Gibran Menurut Survei Celios

“Siswa Nakal” Dikirim ke Barak Militer Akan Jadi Program Nasional? Mau Gak?

Maka dari itu, menurutnya, siapa pun yang berniat menghapus program tersebut secara otomatis dianggap melawan hak asasi rakyat kecil.

“Itu Orang Jahat, Tidak Punya Hati”

Pernyataan ini meluncur saat Pigai menanggapi pertanyaan wartawan di Gedung Kementerian HAM, Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Dengan gaya bicaranya yang lugas, ia tidak segan memberikan sebutan keras bagi para pengkritik yang ingin program-program sosial tersebut dihentikan.

“Maaf ya, ketika program-program yang baik ini diarahkan dengan Pemilu, maka menurut saya itu menentang orang kecil. Itu orang jahat. Orang yang tidak punya nurani. Orang yang tidak punya hati bagi orang kecil yang di depan mata orang miskin,” cetus Pigai.

Ia menambahkan bahwa program MBG seirama dengan dorongan PBB dan UNICEF terkait pemenuhan gizi serta kesehatan anak.

Bagi Pigai, menghentikan program yang menjadi amanat rakyat adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam konteks kemanusiaan.

Buntut Kritik Satir “Sapi Prabowo” dan Teror Ketua BEM UGM

Pernyataan “ada-ada saja” dari sang Menteri ini muncul sebagai latar belakang dari polemik panjang antara pemerintah dan mahasiswa.

Sebelumnya, pada September 2025, BEM UGM sempat melakukan aksi simbolik yang cukup nyeleneh dengan menghadirkan seekor sapi yang kepalanya ditempeli foto Presiden Prabowo sebagai bentuk kritik terhadap program MBG.

Ketua BEM UGM, Tiyo Adrianto, saat itu mengkritik bahwa anggaran MBG berisiko menggerus anggaran pendidikan dan sempat diwarnai isu keracunan.

Namun, kondisi justru berbalik mencekam bagi Tiyo. Sejak 9 hingga 11 Februari 2026, ia mengaku mengalami serangkaian teror mulai dari penguntitan, pemotretan oleh orang tak dikenal, hingga ancaman penculikan via pesan singkat.

Bahkan, teror tersebut merembet ke sang ibunda yang dikirimi pesan tengah malam berisi fitnah bahwa Tiyo telah menggelapkan uang.

Kritik Boleh, Menghapus Jangan

Meski melabeli penentang program sebagai “orang jahat”, Pigai memberikan sedikit ruang bagi para pengkritik. Ia menyatakan bahwa kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan layanan di lapangan tetap diperbolehkan.

Namun, ia menggarisbawahi dengan tebal: jika tujuannya adalah untuk menghapus hak dasar masyarakat seperti makan dan kesehatan gratis, maka itu adalah perlawanan terhadap HAM.

Pernyataan ini pun menambah daftar panjang kutipan kontroversial dari sang Menteri HAM yang selalu berhasil mencuri perhatian publik dengan pilihan kata-katanya yang tajam.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].

MBG