Sentra News Day - Tanah Papua
La Pago
Gereja Horeb Elagaima Dipalang, Kepala Distrik Mugi Temui Warga Hubikosi
adv
loading...
JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Warga pengungsi Nduga yang sedang berdomisili di kampung Hubikosi, Distrik Hubikosi, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan mengalami persoalan tanah dan lokasih tempat tinggal dengan masyarakat Hubikosi, Kabupaten Jayawijaya.
Mereka diminta diurus baik oleh pemerintah Nduga dan pengurus gereja Kingmi Nduga dan Wamena. Oleh karena itu, pihaknya melakukan pertemuan bersama antara Kepala Distrik Mugi, Nduga dan masyarakat Hubikosi Jayawijaya.
Erianus Kogeya, Kepala Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, bersama timnya menggelar pertemuan dengan pihak yang melakukan pemalangan di Gereja Horeb Elagaima, Distrik Hubikosi, Kabupaten Jayawijaya pada, Selasa (3/3/2026). Tujuannya untuk melakukan negosiasi serta meminta penjelasan terkait alasan penutupan gereja.
Erianus Kogeya mengakui pihaknya datang untuk berdiskusi dan mendengarkan langsung alasan pemalangan gereja yang selama ini digunakan sebagai tempat tinggal pengungsi Nduga.
“Kami datang untuk mendengarkan langsung alasan penutupan gereja. Mungkin ada kesalahan dari pengungsi Nduga atau ada dorongan dari pihak lain untuk mengusir mereka,” ujar Erianus dalam pernyataannya yang diterima Suara Papua.
Ia mengaku kehadiran mereka ingin mencari solusi terbaik agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara damai dan tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
ads
“Jika ada persoalan lain yang menjadi alasan penutupan gereja, sampaikan secara terbuka supaya kami bisa mencari jalan keluar. Jangan sampai masalah ini meluas,” katanya.
Sementara itu, Aipan Kossay, salah satu tokoh intelektual wilayahitu yang turut melakukan pemalangan gereja menyampaikan bahwa warga Distrik Hubikosi mendesak Pemerintah Kabupaten Nduga bersama tokoh gereja segera mengurus keberadaan pengungsi Nduga yang telah tinggal di wilayah tersebut sejak 2018.
*****************
Suarapapua.com adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media kami hadir untuk menjadi bagian dari rakyat, juga media yang hadir untuk mengubah sedikit rumitnya persoalan di Tanah Papua. Dukung kami melalui donasi Anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
CLICK HERE!
*****************
Menurutnya, selama bertahun-tahun para pengungsi tinggal tanpa pengawasan dan perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pihak gereja. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan ketidaknyamanan di tengah masyarakat lokal.
Baca Juga: JTW Dilaporkan, Dugaan Upaya Kriminalisasi Direktur LBH Papua Merauke di Tengah Konflik PSN
Warga setempat juga menyampaikan keberatan atas keberadaan pengungsi karena adanya perbedaan budaya antara masyarakat Nduga dan masyarakat Jayawijaya (Huwula), yang dikhawatirkan dapat memicu ketegangan sosial.
Aipan juga mengatakan aksi pemalangan gereja di wilayah tersebut bahwa pihak yang pertama kali membawa pengungsi Nduga ke Distrik Hubikosi harus datang dan memberikan penjelasan secara terbuka mengenai status serta keberadaan para pengungsi.
“Keberadaan pengungsi ini dianggap ilegal oleh masyarakat karena tidak ada penjelasan resmi,” ujarnya.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Nduga, Koordinator Gereja Nduga, Ketua Koordinator Jayawijaya, serta Ketua Klasis segera turun tangan untuk memberikan klarifikasi sekaligus mencarikan lokasi penampungan baru bagi para pengungsi.
Aipan juga menyoroti bahwa Pemerintah Kabupaten Nduga belum pernah melakukan kunjungan langsung ke lokasi, padahal jumlah pengungsi di wilayah tersebut disebut lebih besar dibandingkan tempat lain.
“Kami meminta Pemda Nduga dan pimpinan gereja datang dan membuat suatu perjanjian yang berisi jaminan bagi kedua pihak, baik warga setempat maupun warga pengungsi,” katanya.
Ia menegaskan jaminan tersebut harus mencakup kepastian relokasi agar tidak lagi menimbulkan gesekan sosial antara pengungsi dan warga lokal.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Nduga, Ketua Klasis, serta koordinator gereja dari Nduga maupun Jayawijaya segera mengambil langkah konkret untuk menjelaskan status pengungsi dan mencari solusi yang adil bagi semua pihak.
Poin tuntutan;
Warga setempat (Hubi Kossy, Kabupaten Jayawijaya) meminta Pemda Nduga dan pengurus gereja Kingmi Koordinator Jayawijaya dan Nduga untuk mendatangi lokasi mengurus kehidupan pengungsi Nduga, karena merasa selama ini tak pernah berkunjung oleh Pemda Nduga ataupun gereja.
Warga disana minta orang pertama yang tangani pengungsi Nduga di lokasi tersebut untuk datang menjelaskan status pengungsinya Nduga.
Warga juga minta Pemda Nduga relokasi warga pengungsi Nduga ditempat yang berbeda dengan warga setempat.
TOPIK
Jayawijaya
Lokasi Pengungsian
Nduga
Papua Pegunungan
Bagikan
Facebook Twitter WhatsApp LINE Linkedin Email Mencetak Telegram
Artikel sebelumnya Misi Perdamaian di Kapiraya Terhambat Ulah Oknum Penghalang
Artikel berikutnya Kembali ke Hakikat Kebudayaan: Restorasi Hubungan Suku Mee dan Suku Kamoro sebagai Solusi Konflik Kapiraya