Jurnalis Lingkungan Hidup Hadapi Ancaman di Era Pertambangan
Sumber Foto: Kompasiana.com
Hukum

Jurnalis Lingkungan Hidup Hadapi Ancaman di Era Pertambangan

Sentra News Day - Meliput dan menulis terkait lingkungan hidup mulai dari polusi, dampak pertambangan dan deforestasi, eksploitasi lahan ilegal menjadi bidang paling berbahaya bagi para jurnalis di seluruh dunia. Para reporter bukan saja sekadar mendapat ancaman dan halangan, tetapi juga intimidasi dan penyerangan yang tak jarang menimbulkan korban jiwa.

Reporters Without Borders (RSF) berbasis di Paris mengungkapkan jurnalis di seluruh dunia menyelidiki dan melaporkan isu-isu serius terkait lingkungan, sumber daya alam, dan pengelolaannya mengungkap eksploitasi lahan ilegal, penambangan emas, deforestasi, dan polusi sering kali dihalangi, diancam, atau diserang.

RSF menuturkan sekira tiga puluh jurnalis gugur ketika meliput bidang lingkungan dalam dekade terakhr. Di antaranya Shubham Mani Tripathi, seorang reporter yang menyelidiki mafia penambangan pasir di India, ditembak mati pada 19 Juni 2020. Tripathi adalah reporter di harian berbahasa Hindi lokal Kampu Mail, di distrik Unnao, negara bagian Uttar Pradesh.

Sumber: Gijn.Org

Dengan demikian isu lingkungan terutama pertambangan menjadi sorotan karena bersinggungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Hal ini mendorong Adventure Documentary Festival Academy (ADFA) menggelar talkshow bertajuk Lingkungan dan Tambang dalam Perspektif HAM dan Media pada 14 Februari 2026 di Kamer Kertek bakole Koffie, Gedung Post Kantoor.

Astryd Diana Savitri, founder ADFA dalam talkshow ini menjelaskan masalah lingkungan hidup dan industri pertambangan menjadi topik strategis karena terkait dengan keberlanjutan ekologi, ekonomi dan kehidupan sosial yang berampak pasa masyarakat.

"Media bisa menjadi jembatan dan membuka dialog antara negara, korporasi dan warga yang terdampak, sekaligus membentuk opini publik dan menjaga akuntabilitasnya," ujar Nana.

Lanjut perempuan yang juga karib dipanggil Nana Penajiwa pemilihan Post Kantoor ruang Kamer Kretek Bakoel Koffie Cikini Jakarta bukanlah suatu kebetulan.

Kantor pos yang dirancang menjadi resto otentik dihiasi barang-barang kuno dan antik, mengingatkan kita pada kebutuhan masyarakat masa lampau, dan pemberitaan surat menyurat, penyampaian berita tidak dilakukan secara instan, melainkan ada proses yang harus dilakukan petugas, kurir, hingga sampai pada penerima.

Nostalgia ini menciptakan suasana regulasi yang hingga kini aktivitasnya masih berjalan ke pelosok daerah. Kini di era transformasi digital, email, media sosial, media online, menjadi perantara berita yang arusnya begitu cepat dengan hitungan detik.