Hari Pertama Sekolah Rakyat di Wyata Guna: Harapan untuk Pendidikan yang Setara
Bandung, 14 Juli 2025 – Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung di kompleks Sentra Wyata Guna resmi memulai hari pertamanya dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dalam kesempatan ini, harapan akan pendidikan yang setara juga disuarakan dari Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Pajajaran yang berada di lokasi yang sama.
Alvio, seorang siswa berusia 12 tahun, tiba di sekolah dengan diantar oleh ibunya, Endah, yang berasal dari Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Dengan penuh harapan, Endah ingin anaknya mendapatkan masa depan yang lebih baik. Di aula Wyata Guna, Alvio dan teman-temannya menjalani tes kesehatan, sementara orang tua mereka menunggu di luar.
Setelah menjalani tes kesehatan, para siswa berlari mengelilingi kompleks Sentra Wyata Guna untuk tes kebugaran. MPLS di SRMP 9 Kota Bandung direncanakan berlangsung selama lima hari. Dalam tiga tahun ke depan, Alvio dan teman-temannya akan tinggal di asrama, jauh dari rumah. “Kangen, pastinya, tapi ini untuk masa depan juga,” ungkap Alvio, yang merupakan penggemar Neymar.
Endah mendukung penuh keputusan anaknya untuk bersekolah di Sekolah Rakyat. Ia menjelaskan bahwa anaknya terpilih untuk masuk ke Sekolah Rakyat setelah kunjungan pihak kementerian ke rumah mereka. “Alhamdulillah, anak saya mau dan semangat. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita ke anak, tapi ternyata anak saya semangat,” kata Endah.
Menariknya, Endah tidak perlu mengeluarkan biaya apapun untuk pendidikan Alvio. Ia berharap anaknya dapat meraih cita-cita sebagai pemain bola, dokter, atau orang sukses. “Sekolah ini juga tidak seperti sekolah kecil, bukan sekolah yang asal-asalan. Anak-anak diajarkan untuk mandiri, dan semua fasilitas difasilitasi secara gratis, 100 persen,” jelasnya.
Agus, seorang warga Cimenyan, juga merasakan manfaat dari keberadaan Sekolah Rakyat saat mengantar adiknya bersekolah. “Tadinya, memang tidak akan melanjutkan sekolah karena tidak ada biayanya, kemudian ada Sekolah Rakyat, dan adik saya juga ingin sekolah, jadi kita antar ke sini,” ujarnya.
Sebanyak 50 siswa menjadi angkatan pertama SRMP 9 Kota Bandung. Kepala sekolah, Setia Nugraha, menyatakan bahwa semua peserta didik terdaftar sebagai anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem berdasarkan data yang ada. Kegiatan pertama diisi dengan tes kesehatan dan kebugaran untuk memastikan kesiapan fisik siswa.
Setia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan yang menyeluruh dan gratis. “Anak-anak ini adalah pilihan dari Dinas Kependudukan dan Kementerian Sosial. Mereka masuk melalui seleksi berbasis data, dan seluruh kebutuhannya, dari makan, tempat tinggal, hingga perlengkapan sekolah, disediakan penuh oleh negara,” ujarnya.
Menurut Setia, Sekolah Rakyat bukan hanya lembaga akademik, tetapi juga tempat untuk menumbuhkan karakter anak. Program asrama diharapkan dapat membentuk kemandirian, disiplin, dan kebersamaan. Kegiatan siswa meliputi ibadah bersama, olahraga, pembelajaran formal, penguatan karakter, dan ekstrakurikuler. Kurikulum mengikuti kurikulum nasional SMP, ditambah dengan penguatan bahasa asing, kemampuan digital, akhlak, dan semangat kebangsaan.
Anak-anak juga diarahkan untuk mengembangkan minat melalui seni musik, olahraga, dan kegiatan sosial, dengan fasilitas lengkap di Sentra Terpadu Kementerian Sosial. “Semua fasilitas lengkap dan sudah siap. Pemerintah hadir secara penuh untuk memastikan pendidikan ini layak dan bermartabat. Tidak ada biaya sama sekali bagi siswa dan keluarganya,” tegas Setia.
Setia menekankan bahwa program asrama tidak mengisolasi siswa. Komunikasi dengan orang tua tetap dibuka tanpa mengganggu kegiatan belajar. Ia berharap lulusan Sekolah Rakyat dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan pembinaan karakter dan akademik yang berkelanjutan.
“Ini bukan hanya soal akses, tetapi bagaimana negara hadir memuliakan yang selama ini tidak terjangkau. Harapannya, mereka tumbuh menjadi generasi unggul yang bisa memutus rantai kemiskinan,” tambahnya.
Dampak Sekolah Rakyat terhadap SLBN A Pajajaran
Keberadaan Sekolah Rakyat juga berdampak pada SLBN A Pajajaran yang menempati kompleks yang sama. Gedung D yang sebelumnya digunakan untuk siswa TK dan program SLB kini difungsikan untuk Sekolah Rakyat. Ketua OSIS SLBN A Pajajaran, Aja, mengungkapkan kekhawatirannya, “Dulu kami khawatir benar-benar diusir. Kabar yang saya dengar, sekolah kami mau dipindahkan, dan gedungnya tidak akan diberikan lagi ke SLB,” ujarnya.
Aja menuturkan bahwa kegiatan belajar di SLBN menjadi terganggu karena kelas digabung dengan materi yang berbeda-beda, menyulitkan siswa untuk fokus. “Kami jadi kurang fokus saat belajar karena banyak kelas yang disatukan,” jelasnya.
Saat ini, siswa SLBN A Pajajaran mengandalkan satu gedung utama yang dinilai terlalu kecil. Mayoritas siswa yang berpendidikan tuna netra harus berasrama di Cibabat, Kota Cimahi, yang cukup jauh dari sekolah. Berbeda dengan Sekolah Rakyat yang memiliki asrama dekat dengan ruang kelas.
Meski demikian, Aja tetap siap mendukung kegiatan bersama Sekolah Rakyat dan berharap hak belajar siswa disabilitas tetap diperhatikan. Plh Kepala SLBN A Pajajaran, Rian Ahmad Gumilar, menjelaskan bahwa kedua sekolah memiliki kewenangan yang berbeda meskipun berada di lingkungan yang sama. SLBN A Pajajaran berada di bawah Dinas Pendidikan Jawa Barat, sedangkan Sekolah Rakyat di bawah Kementerian Sosial.
Rian menyatakan, “Kami siap berkolaborasi. Tujuannya tentu untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan saling memahami.” SLBN A Pajajaran sempat dialihkan ke SLB Cicendo tahun ajaran lalu, namun kini kembali dipusatkan di tiga gedung yang tersisa. Keterbatasan ruang memaksa sekolah untuk menyekat kelas guna menampung beberapa rombongan belajar.
Tahun ini, 114 siswa mengikuti MPLS, 26 di antaranya adalah peserta didik baru dari TK hingga SMALB, dengan mayoritas siswa memiliki hambatan penglihatan. Rian menegaskan pentingnya pemahaman bersama mengenai karakteristik anak-anak disabilitas, dan ini bisa menjadi momen untuk saling belajar.




