Fasilitas Toilet Menjadi Keluhan di Sentra Kuliner Ahmad Dahlan Jombang
JOMBANG, KabarJombang.com – Sentra Kuliner Ahmad Dahlan yang resmi dibuka pada Minggu (19/1/2025) telah menarik perhatian masyarakat Jombang. Namun, baru tiga hari beroperasi, tempat yang dirancang dengan desain modern ini menghadapi keluhan dari pengunjung terkait kurangnya fasilitas toilet.
Sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) ini dapat diakses melalui Jalan KH Ahmad Dahlan utara Alun-alun Jombang dan Jalan Gubernur Suryo barat alun-alun Jombang. Tempat ini dirancang untuk menampung pedagang yang sebelumnya berjualan di Jalan Dokter Soetomo, tepat di depan SMA 3 Jombang.
Roby, salah satu pengunjung, mengungkapkan kesulitan dalam menemukan toilet di sekitar sentra. "Saya sudah cari keliling, tapi tidak ada toilet. Saya juga sudah tanya pedagang, katanya memang tidak ada toilet di sini," ujarnya.
Menanggapi keluhan tersebut, seorang pedagang es jeruk yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa banyak pedagang di kawasan tersebut terpaksa mencari masjid atau musala terdekat untuk menggunakan toilet. "Biasanya kalau perlu ke kamar mandi, saya ke masjid terdekat. Masjid Agung Baitul Mukminin yang ada di depan alun-alun Jombang jadi pilihan," ungkapnya.
Selain masalah fasilitas toilet, pengunjung juga mengalami kebingungan dalam mencari pedagang langganan mereka. Shena, seorang pengunjung setia yang mencari ceker pedas, mengungkapkan kesulitannya. "Saya sudah cari-cari, tapi nggak ketemu pedagang ceker pedas langganan saya. Sebelumnya mereka berjualan di depan SMA 3 Jombang, sekarang pindah ke sini, tapi nggak tahu di sebelah mana," katanya.
Tidak semua pengunjung merasakan kebingungan yang sama. Haris, pengunjung lainnya, juga sempat bingung mencari pedagang cimol andalannya, namun akhirnya berhasil menemukannya setelah mengingat gerobak pedagang tersebut. "Saya sempat bingung juga, tapi akhirnya ketemu juga setelah ingat-ingat gerobaknya," ceritanya.
Sentra Kuliner Ahmad Dahlan memang masih dalam tahap penyempurnaan, meskipun saat ini sudah mulai ramai dikunjungi masyarakat. Pusat kuliner yang menampung sekitar 237 pedagang ini beroperasi 24 jam, dengan puncak keramaian biasanya terjadi pada malam hari. Para pedagang dikenakan biaya Rp 5.000 per hari untuk iuran listrik.




