Bank Indonesia Luncurkan PIDI untuk Kembangkan Talenta Digital Muda
Sumber Foto: Pikiran Rakyat Jateng
Teknologi

Bank Indonesia Luncurkan PIDI untuk Kembangkan Talenta Digital Muda

Sentra News Day - PR JATENG – Era ekonomi digital di Indonesia kini memasuki babak baru yang semakin menjanjikan. Guna memperkuat fondasi struktur ekonomi digital nasional, Bank Indonesia (BI) secara resmi meluncurkan program Pusat Inovasi Digital Indonesia atau yang disingkat PIDI.

Program strategis ini dirancang khusus untuk menjaring sekaligus memberdayakan talenta digital muda terbaik di seluruh pelosok negeri. Tidak sekadar menghadirkan ajang kompetisi, BI memformulasikan PIDI dengan pelatihan terstruktur agar generasi muda siap menjawab tantangan dan kebutuhan riil industri masa kini.

Kehadiran PIDI diwujudkan ke dalam dua program utama yang saling berkesinambungan, yakni Digdaya (Digital Talenta Berdaya dan Berkarya) serta Hackathon.

Dalam merealisasikan inisiatif besar ini, Bank Indonesia tidak berjalan sendirian. BI berkolaborasi secara aktif dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta menggandeng sejumlah asosiasi terkait di bidang teknologi dan keuangan digital.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam keterangannya di Jakarta pada Senin (23/2/2026), memaparkan bahwa program PIDI berfokus pada pemberian solusi atas tiga permasalahan utama bangsa.

Fokus pertama adalah penguatan ketahanan serta pengembangan inovasi di sektor keuangan digital. Hal ini dinilai vital mengingat lanskap sistem pembayaran digital yang terus berevolusi secara masif.

Fokus kedua dari program ini menyasar pada sektor riil, yakni peningkatan produktivitas, penciptaan ketahanan pangan, serta perluasan penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Sementara itu, fokus ketiga dititikberatkan pada upaya percepatan layanan publik, pengembangan ekonomi kreatif, serta peningkatan kapasitas ekspor jasa digital Indonesia ke kancah global.

Lebih jauh, Perry Warjiyo menjelaskan mengenai fungsi spesifik dari masing-masing program. Digdaya diposisikan sebagai jalur penguatan kapasitas melalui pelatihan terstruktur dan sertifikasi berjenjang. Tujuannya murni untuk mendongkrak kompetensi serta profesionalisme para talenta digital muda tanah air.

Di sisi lain, Hackathon mengambil peran strategis sebagai laboratorium inovasi skala nasional. Ini adalah ruang kolaborasi bebas di mana peserta dapat menguji gagasan, membangun prototipe produk, hingga memvalidasi solusi berbasis teknologi sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Melihat besarnya potensi program ini, Perry mengajak seluruh kaum muda Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Pendaftaran resmi dibuka mulai 23 Februari 2026, dan para peserta dapat menuangkan beragam ide visionernya dengan mendaftar melalui laman resmi di www.pidi.id.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono, membeberkan tahapan seleksi yang akan dilalui oleh para peserta. Pada tahap awal, pihak BI akan memilih setidaknya 800 tim yang dinilai memiliki potensi terbaik.

Tim yang berhasil lolos pada tahap ini akan diwajibkan mengikuti essential training. Pelatihan ini berbasis self-paced atau pembelajaran mandiri, di mana para pesertanya akan mendapatkan sertifikat resmi. Setelahnya, peserta diharapkan mengumpulkan proposal tahap kedua paling lambat pada tanggal 31 Mei 2026.

Dari 800 proposal proyek tersebut, Bank Indonesia kemudian akan melakukan proses seleksi lanjutan yang ketat sebagai bagian dari rangkaian kompetisi Hackathon. Hasilnya, proposal akan dikurasi dan dipangkas menjadi 480 proposal terbaik.

Bagi peserta yang proposalnya terpilih dalam daftar 480 tersebut, mereka berhak mengikuti pelatihan lanjutan bertajuk practitioner training. Kelas ini sangat krusial karena menggabungkan materi penguatan kemampuan teknis teknologinya dengan ilmu pengembangan usaha.

Tidak sekadar membekali keahlian coding atau teknis digital, peserta juga akan menerima pembekalan kewirausahaan secara mendalam. Materi ini mencakup strategi jitu dalam membangun, mengembangkan, serta mempertahankan kelangsungan bisnis sebuah startup.

Dicky menegaskan, tahapan kurasi ini memang dirancang sedemikian rupa agar para peserta benar-benar siap untuk terjun langsung memimpin sebuah perusahaan rintisan. “Kemudian dari 480 tersebut, yang paling siap kita pilih 80 proposal untuk langsung kemudian kita carikan investornya,” jelas Dicky.

BI sangat berharap ke-80 tim terpilih ini sukses mendapatkan suntikan dana segar dari para investor. Puncaknya, dari 80 startup potensial tersebut, akan dipilih kembali 10 inovasi terbaik untuk menerima penghargaan prestisius dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI).

Melalui kerja sama holistik antara otoritas, pelaku dunia usaha, dan talenta muda bangsa, inisiatif ini diharapkan menjadi ruang kontribusi nyata. Bank Indonesia optimis, PIDI mampu menjadi motor penggerak untuk membangun struktur ekonomi digital nasional yang lebih kuat, aman, dan berdaya saing di tingkat global.