Walmart Rencanakan Akuisisi R&A Data untuk Perangi Produk Palsu
Sumber Foto: Liputan6.com
Ekonomi

Walmart Rencanakan Akuisisi R&A Data untuk Perangi Produk Palsu

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa ritel Walmart dilaporkan sedang dalam pembicaraan untuk mengakuisisi R&A Data, sebuah startup yang didirikan dua ilmuwan Israel dan berfokus pada pemberantasan penipuan serta pemalsuan di pasar daring.

Informasi ini pertama kali terungkap melalui sumber internal dan dokumen yang ditinjau CNBC.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (22/11/2025), selama beberapa tahun terakhir, marketplace pihak ketiga milik Walmart menjadi pilar penting strategi perusahaan untuk meningkatkan profit lebih cepat dibanding pertumbuhan penjualan.

Pendekatan ini terbukti sukses, terlihat dari lonjakan 25% bisnis ecommerce Walmart di AS pada kuartal terakhir.

Walmart menambahkan ratusan juta daftar baru produk ke platform yang merupakan pertumbuhan masif memicu kebutuhan mendesak akan alat pendeteksi produk bermasalah.

R&A Data masuk sebagai salah satu solusinya. Startup tersebut diketahui sudah menjadi vendor pihak ketiga Walmart sejak 2024, khususnya untuk memindai listing produk yang berpotensi melanggar aturan, termasuk indikasi pemalsuan.

Pengalaman kerja sama itu membuat Walmart tertarik mengakuisisi langsung R&A Data. Namun, detail nilai dan bentuk kesepakatan hingga kini masih samar. Ketika dimintai konfirmasi, Walmart belum memberikan respons, sementara R&A Data memilih bungkam.

Berawal dari Banyak Produk Palsu

Perbesar

Kabar ini muncul tak lama setelah investigasi CNBC dua bulan lalu yang menemukan bahwa Walmart semakin melonggarkan proses pemeriksaan seller dan produk demi mengejar ekspansi dan bersaing ketat dengan Amazon. Investigasi itu mengidentifikasi 43 seller yang menggunakan identitas bisnis palsu dan menemukan 20 produk kecantikan serta suplemen palsu yang dijual ke konsumen.

Menanggapi laporan tersebut, Walmart menegaskan komitmennya terhadap standar keamanan.

Upaya mencegah peredaran barang palsu di marketplace pada umumnya menuntut dua langkah besar yaitu pemeriksaan ketat saat seller mendaftar dan pemantauan berkelanjutan terhadap jutaan listing. R&A Data dianggap mampu memperkuat langkah kedua.

Mengenai R&A Data

Didirikan pada 2022 oleh Noam Rabinovich dan Raz Abramov keduanya mantan personel unit intelijen militer Israel R&A Data mengandalkan kecerdasan buatan untuk menyisir jutaan produk secara cepat dan akurat.

Meski informasi publik mengenai perusahaan ini masih terbatas, situsnya (yang sempat offline selama dua bulan terakhir) menggambarkan teknologi mereka sebagai alat canggih dengan kemampuan pemindaian berskala besar.

Sebelumnya, kedua pendirinya juga membangun EverC, perusahaan yang membantu platform online mendeteksi pedagang berisiko, aktivitas pencucian uang, hingga peredaran barang ilegal. Keduanya meninggalkan EverC pada 2022 dan 2023 sebelum membangun R&A Data.

Jika akuisisi benar terwujud, langkah ini diperkirakan akan membantu Walmart memperketat pengawasan atas ratusan juta produk yang beredar di platformnya sebuah kebutuhan yang semakin mendesak seiring ekspansi marketplace pihak ketiga dan meningkatnya risiko pemalsuan.