Startup AI dan Robotik Menjadi Daya Tarik Investasi Global
Sumber Foto: Tempo.co
Teknologi

Startup AI dan Robotik Menjadi Daya Tarik Investasi Global

DIREKTUR Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi memproyeksikan perusahaan rintisan atau startup di bidang akal imitasi (AI) dan robotik bakal meraih cuan dari investor global. Ia menilai startup dalam sektor tersebut memiliki rantai pasok untuk mendukung pengembangan teknologi di masa kini.

Menurut Heru, startup di bidang AI dan robotik tidak sama dengan perusahaan rintisan e-commerce ataupun financial technology (fintech) dalam pola bisnisnya. “Startup AI dan robotik itu bisa disebut generasi dua. Sedangkan startup e-commerce, fintech, jasa transportasi online, itu generasi pertama,” kata Heru saat dihubungi pada Senin, 27 Oktober 2025.

Selain perbedaaan dalam pola bisnisnya, Heru menilai startup di bidang AI dan robotik lebih dilirik oleh para investor karena produk yang mereka produksi berguna untuk pengembangan teknologi masa kini. Terlebih dengan menjamurkan pelbagai jenis teknologi kecerdasan buatan, menjadikan bisnis startup di bidang ini menjanjikan keuntungan.

“Jadi mereka ini kan bakal mengembangkan produk-produk baru. Teknologi kecerdasan buatan, robotika, internet of thing. Berpeluang dapat banyak pendanaan dan investasi yang besar,” ucap Heru yang juga dikenal sebagai pengamat industri teknologi dan startup.

Pernyataan Heru ini sejalan dengan proyeksi Kementerian Komunikasi dan Digital yang menginginkan investor global untuk berinvestasi dengan perusahaan rintisan di Tanah Air. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid dalam perhelatan Tech in Asia Conference 2025 pada Rabu, 22 Oktober, menyebut sebanyak 20 startup unggulan Indonesia bertemu dengan investor global.

Komdigi juga mengklaim telah memfasilitasi lebih dari 2.600 pertemuan terkurasi dan menghasilkan investasi serta kemitraan bisnis senilai lebih dari US$ 60 juta atau setara Rp 996 miliar. Meutya menilai kerja sama yang telah terjalin antara startup Indonesia dan investor global menjadi tanda semakin matangnya ekosistem digital nasional.

Sementara itu Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan penting untuk memperkuat seluruh komponen dalam ekosistem startup agar risiko kegagalan bisa ditekan.

“Kita perlu mengorkestrasi ekosistemnya. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci,” katanya melalui keterangan tertulis pada Rabu, 22 Oktober 2025.

Ia menuturkan melalui kolaborasi antara startup, investor, dan pemerintah, Indonesia terus memperkuat posisi sebagai rumah bagi inovasi digital yang tumbuh dari kepercayaan dan keterhubungan.