Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stabil di Tengah Ketidakpastian Global
Sumber Foto: bps.go
Pusat Update

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

Jakarta, (5/11) - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang mencakup tiga indikator utama: Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Data ini memberikan gambaran penting mengenai perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia.

Di tengah dinamika perdagangan internasional, ekonomi Indonesia menunjukkan ketangguhan dengan mencatat pertumbuhan yang solid. Pada triwulan III 2025, PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,04 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,95 persen. Sebagai perbandingan, sejumlah negara tetangga juga mengalami pertumbuhan positif, di antaranya Vietnam dengan 8,2 persen, Tiongkok 4,8 persen, Malaysia 5,2 persen, dan Singapura 2,9 persen.

Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi serta pertumbuhan beberapa indikator seperti transaksi online di e-retail dan marketplace, serta nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kredit.

Jumlah perjalanan wisatawan nusantara juga menunjukkan peningkatan signifikan, tumbuh sebesar 21,84 persen. Selain itu, jumlah penumpang di beberapa moda transportasi, seperti angkutan rel dan angkutan laut, juga mengalami pertumbuhan.

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan sebesar 9,91 persen, didorong oleh ekspor komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak hewan/nabati, besi dan baja, mesin serta peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Kunjungan wisatawan mancanegara juga turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekspor jasa.

Investasi, yang tercermin dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,04 persen, sedangkan konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan hingga 5,49 persen.

Sektor-sektor yang Berkembang

Sektor industri pengolahan mencatat pertumbuhan sebesar 5,54 persen, dengan kinerja yang kuat terutama di industri makanan dan minuman, logam dasar, serta kimia, farmasi, dan obat tradisional. Sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 5,49 persen, didukung oleh peningkatan aktivitas perdagangan barang domestik, terutama produk pertanian dan industri pengolahan.

Sektor informasi dan komunikasi juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sebesar 9,65 persen, didorong oleh meningkatnya lalu lintas data dan transaksi perdagangan melalui sistem elektronik. Sementara itu, sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 4,93 persen akibat peningkatan permintaan domestik.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi positif tercatat di seluruh wilayah. Pulau Jawa mencatat pertumbuhan sebesar 5,17 persen dan Sulawesi 5,84 persen, keduanya di atas rata-rata nasional. Wilayah Maluku dan Papua juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 2,68 persen, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan triwulan III tahun sebelumnya.

Penurunan Tingkat Pengangguran

Data per Agustus 2025 mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,85 persen, turun dari 4,91 persen pada Agustus 2024. Penurunan ini diikuti dengan berkurangnya jumlah pengangguran terbuka menjadi 7,46 juta orang. Proporsi pekerja formal juga meningkat dari 42,05 persen pada Agustus 2024 menjadi 42,20 persen pada Agustus 2025.

Dalam setahun terakhir, terdapat tambahan tenaga kerja di sektor pertanian (0,49 juta orang), akomodasi dan makan minum (0,42 juta orang), serta industri pengolahan (0,30 juta orang). BPS mengklasifikasikan penduduk bekerja ke dalam tiga kategori: pekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu, dan setengah pengangguran. Pada Agustus 2025, proporsi pekerja penuh waktu adalah 67,32 persen, pekerja paruh waktu 24,77 persen, dan setengah pengangguran 7,91 persen.

Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2025 mencapai 75,90, meningkat dari 75,02 pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan perbaikan dalam akses penduduk terhadap hasil pembangunan dalam aspek ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Komponen harapan hidup saat lahir meningkat menjadi 74,47 tahun, harapan lama sekolah naik menjadi 13,30 tahun, dan rata-rata lama sekolah tercatat 9,07 tahun.

Pengeluaran riil per kapita per tahun, yang disesuaikan, meningkat dari Rp12,3 juta pada tahun lalu menjadi Rp12,8 juta pada tahun ini. Secara spasial, provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta (85,05), DI Yogyakarta (82,48), dan Kepulauan Riau (80,53). Sebaliknya, Provinsi Papua Pegunungan mencatat IPM terendah sebesar 54,91, sementara Provinsi Jawa Barat mengalami kenaikan IPM tertinggi sebesar 0,98 poin.