Perjalanan Nick Molnar: Dari Karyawan Menjadi Pendiri Startup Rp 469 Triliun
Sumber Foto: Kompas.com
Ekonomi

Perjalanan Nick Molnar: Dari Karyawan Menjadi Pendiri Startup Rp 469 Triliun

KOMPAS.com - Nick Molnar, pengusaha asal Australia, awalnya tak yakin ingin berkarier di dunia bisnis. Namun, dorongan sang bos justru mengubah jalan hidupnya.

Ia berhasil mendirikan perusahaan finansial teknologi yang kemudian dijual senilai 29 miliar dollar AS atau sekitar Rp 469 triliun (asumsi kurs Rp 16.186 per 1 dollar AS)

Awal Ketertarikan Bisnis

Sejak kecil, Molnar sudah akrab dengan dunia wirausaha. Ia tumbuh di Sydney bersama keluarga yang menjalankan bisnis perhiasan.

“Orang tua saya yang merupakan pengusaha ritel selalu mengajarkan seluk-beluk perdagangan. Jadi, saya merasa bisnis ritel sudah ada dalam darah saya,” kata Molnar, dilansir dari dari CNBC.

Saat remaja, Molnar mulai menjual perhiasan keluarganya melalui eBay, lalu mengembangkan situs web sendiri.

Meski demikian, selepas kuliah, ia memilih jalur berbeda dengan melamar pekerjaan di bidang keuangan.

Dorongan Sang Bos

Pada 2011, Molnar bekerja di perusahaan modal ventura Australia, M.H. Carnegie & Co. Di sinilah perjalanannya berubah. Mark Carnegie, pendiri perusahaan tersebut, melihat bakat besar Molnar.

“Dia akan datang setiap pagi dan bertanya berapa banyak perhiasan yang saya jual hari itu,” ucap Molnar.

Saat itu, bisnis online perhiasannya menghasilkan sekitar 2 juta dollar Australia (lebih dari 2 juta dollar AS) per tahun.

Carnegie bahkan menantangnya dengan pertanyaan sederhana: apa yang akan dilakukan Molnar jika diberi 1 juta dollar untuk mengembangkan bisnisnya.

“Dia berkata, ‘Saya pikir kamu terbuang sia-sia bekerja di perusahaan ini. Saya akan simpan kursimu selama setahun agar kamu percaya diri jadi pengusaha. Tapi setelah itu, kamu tidak akan kembali,’” kenang Molnar.

Pada 2012, ia pun memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan tak pernah kembali ke dunia modal ventura.

Lahirnya Afterpay

Molnar kemudian melanjutkan bisnis perhiasan sekaligus menggagas ide baru bersama tetangganya, Anthony Eisen.

Pada 2014, keduanya meluncurkan Afterpay, layanan buy now, pay later (beli sekarang, bayar nanti).

Saat itu, model bisnis tersebut masih jarang ditemui, terutama di Australia. Namun Molnar yakin generasi muda membutuhkan alternatif selain kartu kredit.

“Saya tahu milenial membutuhkan pilihan lain. Setiap kali saya membagikan visi dan peluang ini, saya semakin yakin ide tersebut harus diwujudkan,” ujarnya.

Keyakinan itu terbukti. Pada Agustus 2021, perusahaan layanan keuangan milik Jack Dorsey, Square (kini Block), resmi mengakuisisi Afterpay dengan nilai fantastis 29 miliar dollar AS.

Alasan Sempat Pilih Jadi Pegawai

Meski sejak awal memiliki jiwa wirausaha, Molnar mengaku sempat memilih jalur karier konvensional karena alasan stabilitas.

“Saya ingin penghasilan tetap dan keamanan untuk memastikan keluarga bisa terurus,” kata dia.

Molnar menambahkan, para pendiri bisnis yang ditemuinya juga sering mengingatkan bahwa tingkat keberhasilan perusahaan baru sangat rendah. Namun dorongan Carnegie membuatnya berani melangkah.

“Bahkan meski saya merasa seorang pengusaha sejati, tetap dibutuhkan orang yang tepat untuk memberi saya kepercayaan diri,” ucap Molnar.

Kini, ia tak menyesali pilihannya sempat bekerja di perusahaan modal ventura. Menurutnya, pengalaman itu memberi banyak pelajaran berharga dan justru menjadi “superpower” dalam perjalanannya.

“Saya tidak punya masa lalu yang membuat saya ragu. Kadang keputusan salah dibuat ketika kita berhenti percaya pada intuisi,” kata Molnar.