Peringatan Hari Batik Nasional di Sentra Kartini Temanggung: Memperkenalkan Batik Ciprat dan Layanan Rehabilitasi
Temanggung, 2 Oktober 2025 - Peringatan Hari Batik Nasional di Sentra Terpadu Kartini Temanggung diselenggarakan dengan penuh semangat dan meriah. Berbagai kegiatan menarik digelar untuk memperkenalkan layanan rehabilitasi serta produk vokasional unggulan yang dihasilkan oleh penyandang disabilitas.
Acara ini mencakup beragam aktivitas, antara lain membatik bersama, fashion show, live cooking, sosialisasi program layanan rehabilitasi, serta pameran kerajinan tangan dan hasil karya penyandang disabilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memberikan dukungan kepada penyandang disabilitas.
Program Layanan Rehabilitasi
Kepala Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Dewi Suhartini, menjelaskan bahwa salah satu program penting yang disosialisasikan adalah layanan rehabilitasi mobile. Unit ini dirancang khusus untuk menjangkau penyandang disabilitas yang belum mampu datang langsung ke sentra. Dengan adanya layanan ini, diharapkan lebih banyak individu yang mendapatkan akses rehabilitasi yang mereka butuhkan.
Batik Ciprat dan Program Vokasional
Sentra Kartini juga memperkenalkan berbagai program vokasional, termasuk pembuatan batik ciprat dan fashion show. Batik ciprat, yang menjadi fokus utama acara, mendapatkan perhatian luas karena produk ini telah tersebar di 35 kabupaten melalui shelter workshop peduli. Dewi menyatakan, "Mayoritas pembuat batik ciprat adalah penerima manfaat kami, terutama penyandang disabilitas intelektual dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Mereka lebih mudah membuat pola menggunakan teknik ciprat dibandingkan mencanting, yang memerlukan konsentrasi tinggi."
Produk batik ciprat karya penerima manfaat juga dipasarkan melalui Galeri Kartini dan telah dipakai oleh pegawai negeri di lingkungan Kementerian Sosial setiap hari Selasa.
Keterlibatan Anak Sekolah dalam Peringatan
Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Sentra Kartini menggandeng sekolah rakyat untuk berkolaborasi. Anak-anak sekolah diajak untuk mencanting, sementara para penerima manfaat memberikan sentuhan dengan teknik ciprat. Dewi menambahkan, "Kami ingin anak-anak sekolah ikut terlibat, sehingga batik ciprat semakin dikenal dan menjadi sarana inklusi."
Salah seorang pemuda asal Semarang juga memamerkan hasil karyanya di hadapan publik. Ia mengungkapkan, "Selain dijual, batik karya saya juga saya pakai sendiri. Yang beli juga suka." Kegiatan ini menunjukkan bahwa batik ciprat tidak hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi dan peluang bagi para penyandang disabilitas untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat.




