Pengembangan Sel Punca di Indonesia: Menyongsong Masa Depan Medis yang Lebih Baik
Jakarta - Dalam upaya mengembangkan penelitian sel punca di Indonesia, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan bahwa pengembangan sel punca di Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Hal ini disampaikan Nasir saat kunjungannya ke Stem Cell Research and Development Center di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur.
Nasir menyatakan, meskipun Indonesia menghadapi tantangan dalam hal fasilitas laboratorium yang modern, pengembangan terapi sel punca di negara ini tetap dianggap bergengsi oleh negara lain. "Kita tidak ketinggalan dengan Cina, Amerika Serikat, dan Iran dalam pengembangan stem cell. Persoalannya hanya ada di ketersediaan laboratorium saja," ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya peneliti untuk fokus pada penyempurnaan riset dan regulasi yang mendukung pengembangan sel punca dalam dunia medis di Indonesia. Nasir menjelaskan bahwa Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia telah ditunjuk sebagai pusat studi sel punca di wilayah timur dan barat Indonesia, masing-masing. Ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam pengembangan sel punca ke depan.
Pentingnya Sel Punca dalam Pengobatan Modern
Sel punca, yang memiliki kemampuan untuk bertransformasi menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh, menjadi fokus utama dalam pengembangan pengobatan untuk berbagai penyakit yang belum memiliki solusi. Meskipun terdapat keterbatasan dalam hal dana, sumber daya manusia, dan teknologi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi berkomitmen untuk mendukung pengembangan sel punca sebagai alternatif pengobatan modern.
Prof. Fedik Abdul Rantam, peneliti sel punca dari UNAIR, mengungkapkan bahwa mereka telah berhasil menerapkan terapi sel punca pada 12 jenis penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, fraktur tulang, sirosis, kanker, dan cerebral palsy.
Cerita Sukses Terapi Sel Punca
Di tengah kunjungannya, Nasir juga bertemu dengan Andi Muhammad Ardan, seorang pasien yang berhasil menjalani terapi sel punca untuk sirosis hati di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga. Andi, yang sebelumnya mengalami kondisi serius, mengungkapkan bahwa setelah tiga kali terapi, berat badannya meningkat dan kondisinya membaik secara signifikan.
Nasir menekankan bahwa contoh sukses seperti Andi harus terus didorong, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pengobatan yang lebih efektif. Eksplorasi dan pengembangan sel punca diharapkan dapat menjadi solusi dalam terapi penyakit di masa depan.
Pengembangan Terapi Sel Punca di Indonesia
Saat ini, tidak kurang dari 500 kasus penyakit telah ditangani dengan terapi sel punca. Selain itu, produk-produk berbasis sel punca juga telah dikembangkan, termasuk dalam bidang kosmetik, dan sedang dalam proses registrasi ke BPOM.
Nasir mencatat bahwa jika produksi terapi sel punca dapat dilakukan secara masif, biaya produksi akan turun dan dapat diakses oleh lebih banyak masyarakat. Ia memberikan contoh bagaimana biaya terapi sel jantung yang sebelumnya mencapai 600 hingga 2.000 dolar AS dapat berkurang menjadi 150 dolar AS berkat pengembangan teknologi nanoteknologi.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo di Surabaya juga ditunjuk sebagai pusat pengembangan layanan medis sel punca, dilengkapi dengan fasilitas riset dan bank jaringan untuk pengolahan sel punca. Kementerian Kesehatan telah menetapkan 11 rumah sakit di Indonesia yang dapat menerapkan terapi sel punca, termasuk RSUD Dr. Soetomo dan Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.
Dengan komitmen dari pemerintah dan peneliti, diharapkan pengembangan terapi sel punca di Indonesia dapat terus maju dan memberikan manfaat bagi masyarakat.




