Peluang Pemulihan Pasar Properti 2026 di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Memasuki awal 2026, pasar properti masih dibayangi dinamika global—mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dan inflasi, perang Rusia–Ukraina yang berdampak pada sektor energi, hingga ketegangan AS–China yang menekan rantai pasok serta investasi global.
Di dalam negeri, tantangan diperkuat oleh fluktuasi pasar tenaga kerja, tekanan daya beli, serta volatilitas pasar keuangan yang tercermin dari pelemahan IHSG pada awal tahun.
Meski demikian, CEO Pinhome Dayu Dara Permata menilai peluang pemulihan tetap terbuka pada 2026. Dengan potensi stabilisasi ekonomi dan membaiknya sentimen pasar, sektor properti diproyeksikan kembali menemukan momentum pertumbuhan.
Optimisme tersebut turut diperkuat oleh resiliensi pasar regional, khususnya di Sumatera, yang menunjukkan pemulihan relatif cepat di kota-kota utama pascabencana. Hal ini tercermin dari meningkatnya indeks permintaan rumah, terutama di Palembang (+24%) dan Pekanbaru (+23%) pada Desember 2025 dibanding bulan sebelumnya.
“Pembangunan infrastruktur juga diproyeksikan menjadi katalis pertumbuhan properti. Salah satunya operasional Kereta Cepat Whoosh mendorong lonjakan minat di Bandung Timur, dengan pencarian di Cileunyi naik 18% dan Rancaekek melonjak 31% pada Semester 2 tahun 2025 dibandingkan dengan semester 2 tahun 2024. Kenaikan ini turut didorong oleh progres pembangunan Tol Getaci (Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap),” ungkap Dara, Jumat (13/2/2026).
Pertumbuhan pasar properti di luar Jawa juga tercermin dari percepatan kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang mendorong kenaikan pencarian rumah di wilayah pusat komoditas. Maluku Utara mencatat kenaikan tertinggi sebesar 11%, disusul Sulawesi Tengah (8%) secara semesteran, seiring ekspansi industri pengolahan nikel di Morowali, Halmahera Tengah, dan Pulau Obi.
Menurut Dara, tren ini menandakan munculnya pusat-pusat pertumbuhan properti baru yang tidak lagi bertumpu pada kota-kota besar tradisional. Namun, ia menegaskan tantangan utama sektor perumahan masih berkisar pada keterjangkauan dan ketimpangan distribusi hunian.
“Kolaborasi kebijakan dalam pembiayaan, pembangunan, dan infrastruktur diperlukan agar program perumahan tidak hanya menambah pasokan, tetapi juga benar-benar meningkatkan keterjangkauan,” ujarnya. (*)




