Mahasiswi Unimal Serukan Kepedulian Sosial di Kalangan Generasi Muda
KBRN, Lhokseumawe: Dalam sebuah bincang santai yang hangat dan penuh makna di Studio Pro 2 RRI Lhokseumawe, dua mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh, Ulfa dan Zila, berbagi pengalaman pribadi mereka tentang tantangan menjadi anak muda yang peduli di tengah lingkungan yang cenderung anti sosial. Obrolan yang disiarkan dalam program khusus ini menyentuh banyak sisi, mulai dari keprihatinan terhadap perilaku remaja, seperti balap liar, pembullyan, hingga maraknya aksi begal yang makin meresahkan. “Kadang kita heran, kenapa seolah tidak ada yang peduli? Padahal yang terkena dampaknya bisa jadi teman atau keluarga kita sendiri,” ujar Zila.
Ulfa menambahkan bahwa sebelum menuntut perhatian dari pihak berwenang, seharusnya anak muda sendiri yang mulai peduli dari hal-hal kecil. Menurutnya, peduli itu tak harus menunggu momen besar. “Mulai aja dari hal sederhana, misalnya nggak buang sampah sembarangan, atau luangin waktu dengar curhatan teman yang biasanya pendiam. Itu udah bentuk perhatian yang nyata,” katanya sambil tersenyum. Ia percaya, perhatian-perhatian kecil seperti itu bisa mengubah suasana lingkungan jadi lebih sehat dan ramah.
Keduanya juga tak ragu menceritakan perasaan tidak nyaman saat mencoba membantu orang lain, tapi takut dianggap terlalu ikut campur. “Pernah ragu banget waktu lihat teman kayaknya lagi sedih, tapi aku takut kalau dia malah ngerasa risih atau nggak butuh bantuan,” cerita Ulfa. Zila mengangguk dan menimpali, “Rasa takut itu wajar, tapi kalau kita nggak mulai peduli, siapa lagi yang akan?”
Pengalaman pribadi ini menjadi refleksi bahwa empati dan kepedulian di kalangan muda tidak boleh padam meski sering tak dianggap. Justru dari lingkungan kampus, komunitas, dan pertemanan, kebiasaan untuk saling memperhatikan harus dibangun. “Kami bukan siapa-siapa, cuma mahasiswa biasa. Tapi kami percaya satu aksi peduli bisa menular ke aksi lainnya,” ucap Zila penuh semangat. Mereka berdua meyakini bahwa perubahan sosial tidak akan lahir dari teriakan keras, tapi dari tindakan kecil yang konsisten dan tulus.




